Fashion Up2date

Standar

@Kamar Biru

 

“Sayang, sini deh. Lihat baju ini cantik ya.”

“Iya mas, cantik.”

“Mas udah pesen itu buat kita, model cowonya kaya gini. Dan ini motif kainnya”

“Pesen? Kapan mesennya? Sama siapa? Berapa duit?”

“Ada deeehh … mauu tauuu ajaaa …”

“Kapan barangnya dikirim?”

“Hmmm … kira-kira seminggu lagi lah.”

“Seminggu lagi? Kok lama bangeeett?”

“Sayang, ini handmade, bukan barang pabrikan. Dia ngerjain barang pesenan mas, kami design ber sama-sama.”

“Design sama-sama? Nanti kalo designnya aku ga suka gimana? Kalo aku jadi keliatan ndut gimana? Kamu tau ukuranku dari mana? Kan itu harus diukur ini itunya maass …”

“Pssstttss … suamimu ga bego-bego amat kale, beres semuaaa …”

“Tapi mas, kamu dapat duit dari mana buat bayarnya???”

“Aduuuuhhh … nyesel dah bilangnya, udaahh kamu terima beres semua deh. InsyaAllah duitnya halal deeehh …”

“Kenapa kamu musti beli sama designer segala sih?”

“Sayang, kamu merasa diri kamu cantik ga?”

“Hmmm … iya, aku cantik!”

“Bagus, inner beauty memang penting, tapi penampilan yang bagus juga penting buat memancarkan inner beauty kamu.”

“Maksudmu”

“Kamu cantik, tapi sayang, penampilanmu tak mendukung. Dandanan kamu sangat konservatif, pemilihan warnanya mati, dan penampilan seperti itu terkesan kamu lebih tua dari usiamu, macam ibu-ibu pengajian gitulah.”

“Loh aku emang udah jadi ibu, dan aku ngaji kan.”

“Tapi sayang, coba liat aku dong, penampilanku keliatan lebih mudakan, kalo kita jalan, seakan-akan aku ni berondong yang lagi kencan sama tante-tante.”

“Emangnya penampilan seperti apa sih yang kamu suka?”

“Ya, main di warna-warna pastellah. Kulitmu terang, jangan pake warna-warna mati, jadinya ga bersinar. Jangan melulu pake bawahan hitam, sekali-kali matchingin sama atasanmu dong. ”

“Aku pake bawahan hitam karena itu bisa dipadupadankan dengan warna atasan apapun. Simple ajakan. Yang penting atasannya warna warni.”

“Nih, ada info dari kawanku. Katanya ada sebuah toko fashion moslem di PIM (Pondok Indah Mall). Kapan-kapan kita harus kesana.”

“Ndak ah, pasti harganya mahal-mahal”

“Iya sih, katanya gamis biasa harganya 300rb, stelan atas bawah min 500rb-an, kerudung 200rb-an”

“Whaaaatt … no way. Baju harga segitu mo dipake kemana? Kalo cuman buat jalan-jalan ke mall aja mah kemahalan. Mending buat bayar cicilan BTN dah.”

“Ah, sayang mah ga mau nyenengin suaminya. Disana tuh yang belanja banyak artis. Kamu harus tau fashion yang up2date.”

“Hmmm … ga ah. Kalo mau belanja, ga perlu ke PIM, ke mall deket-deket sini aja.”

“Perlu ke PIM sayang, buat cari tau model-model yang up2datenya. Aku suka yang model kasual”

“Ga mau. Emang dikira mall-mall di sini ga jual baju-baju up2date apa. Lagian aku bingung deh, aku sih merasa gayaku udah kasual banget. Pake atasan kaos, bergo kaos, bawahannya celana kulot, pake sepatu sandal, mananya sih yang kurang kasual. Bukannya gaya kasual itu gaya santai ya, aku merasa santai dengan pakaianku dan aku suka dengan gayaku.”

“Tapi kamu keliatan kaya ibu-ibu pake pakaian itu, tandanya kamu ga cocok walaupun itu nyaman buatmu. Gayamu juga membosankan, modelnya begitu-begitu aja. Kamu pikirin aku dooongg, aku pengen gandeng cewe cantik bukan buntelan kentut.”

“Whaaattt??? Kamu ngatain aku apa mas??? Asal kamu tau ya, aku pake celana juga untuk kamu, karena kamu ga suka aku pake gamis atau rok kan? Kalau kamu bosan dengan celana hitamku, oke aku akan beli celana yang warna warni. Tapi kan aku mikirin banyak hal mas, belum bayar ini, bayar itu, ya daripada beli celana baru kan mending ngelunasin tagihan. Kamu mana pernah mau tau kan soal itu. Dari awal kan kamu tau, aku ini bukan cewe fashionable. Kenapa kamu baru complain sekarang sih???”

Aku lari keluar kamar. Esmosi menguasaiku. Ku pandangi pantulan tubuhku pada kaca lemari. Beberapa bulan yang lalu dia complain soal bobot tubuhku, mati-matian aku nurunin bobot ini. Sekarang dia complain lagi soal penampilanku, haloooo … kemana sih larinya laki-laki yang bersedia menerimaku apa adanya? Air mata mulai meleleh, seketika itu juga bayangan bertahun-tahun yang lalu kembali berputar ….

Syarrah kecil, tinggal bersama ayah yang pegawai swasta rendahan, ibu yang full time mother dan 3 orang adik yang kecil-kecil. Ibu berusaha memenuhi seluruh kebutuhan keluarga dengan gaji ayah yang tak besar. Dan prioritas utama adalah untuk makan dan pendidikan syarrah kecil beserta adik-adiknya. Tak ada budget untuk membeli pakaian baru setiap bulan. Belanja keperluan sandang ya cuma setahun sekali, saat lebaran akan datang. Syarrah yang prihatin sejak kecil tahu diri, tak pernah menuntut apa-apa, bahkan saat teman-temannya sibuk memamerkan baju-baju beserta accessories model terbaru, syarrah hanya tersenyum kecut, membayangkan akan punya baju-baju seperti itu pun tak pernah. Bisa jajan hari ini dan bayaran tak menunggak adalah sesuatu yang lebih berarti buat syarrah ketimbang baju dan accessories up2date itu.

Sampai beranjak remaja saat undangan ulang tahun semakin banyak dilayangkan kepadanya, Syarrah hanya tercenung di depan lemari bajunya, sebetulnya tak layak di sebut lemari baju. Tempat koleksi baju seragam sekolah, sepotong jins baggy yang sudah tak up2date lagi, 2 potong kemeja yang juga tak up2date dan beberapa potong baju rumah itu hanyalah rak kayu bertutup kain hordeng  yang dibuat sang ayah. Syarrah harus berbagi rak kayu itu dengan ketiga adiknya. Mengingat koleksi bajunya yang benar-benar payah, Syarrah harus pasrah tinggal di rumah saja di malam minggu yang cerah itu. Mengamati langit malam yang tak berbintang, bahkan rembulanpun tak nampak. Apakah dia juga malu karena tak punya baju baru?

Kini, Syarrah kembali merasa nelangsa seperti malam itu. Hanya bedanya, bukan karena syarrah tak punya baju baru. Lemari syarrah kini tak lagi rak kayu bertutupkan kain hordeng, tapi lemari kayu 3 pintu beneran. Syarrah yang malang, ternyata walaupun koleksinya bertambah, tetapi selera fashionnya belum juga berubah. Belum juga paham tentang perkembangan model-model fashion terbaru, belum juga mengerti tentang padu padan warna dan model yang apik untuk membungkus tubuh mungilnya. Tapi tak adilkan jika semua harus menyalahkan Syarrah, dia hanya korban … korban keadaan …

***

Kegalauan itu masih menggelayuti Syarrah hingga ke kantor. Saat lunch pun tak lagi nikmat, Syarrah tak berminat mengobrol ngalor ngidul dengan para sedulurnya di kantor. Syarrah sibuk mengaduk-ngaduk nasi makan siangnya, saat percakapan rekannya sayup-sayup masuk ketelinganya …

“Waaahh … jeng eti pake baju baru nih, jadi beda deh penampilannya.”

“Eh Bu Ira, bisa aja. Ini permintaan suami bu, suamiku sukanya aku berpenampilan kaya gini, pake gamis panjang plus jilbab panjang. Sejujurnya aku sih lebih suka pake baju yang ga terlalu besar kaya gini, tapi mau gimana lagi, suami sudah bertitah, ya aku harus melaksanakan.”

“Tapi kamu keliatan lebih manis loh pake gaya begini, cocok kok buat kamu. Lagian kamu tuh musti bersyukur, lah temenku kasian deh, suaminya tuh suka dia pakai pakaian terbuka-buka gitu, padahal dia udah kepengen banget pakai jilbab, tapi suaminya belum kasih ijin.”

“Bu Eti, Bu Ira, suami-suami emang suka aneh ya maunya. Lah suamiku lebih unik lagi, dia maunya kalo pulang kerja tuh disambut sama istrinya yang udah dandan cantik, pakai baju bagus, kerudung kain, plus brosnya. Jadi aku setiap sore musti berdandan macam orang mo kondangan ajalah.”

“Hahahaaaa … emang gitu Bu Puput, ada suami-suami yang pengen disambut dengan dandanan super minim atau super menor. Hahaaa …”

“Eeehh, bahkan ada loh yang rela ngecat rambutnya jadi blondie karena permintaan suaminya.”

“Ckckck … untung suamiku orangnya ga neko-neko. Tapi kalo dipikir-pikir lagi ya, mereka itu memang layak di hibur dengan tampilan istrinya loh, wong diluar sana setiap hari mereka ketemu sama berbagai model wanita, kalau kita tak pintar-pintar bersolek sesuai seleranya, bisa-bisa suami nanti tergoda, ya korban perasaan dikit mah ga papalah, yang penting suami happy, tambah sayang ma kita, ya kan … hehehe …”

Bersamaan dengan berlangsungnya obrolan, sebuah kesadaran baru menghantam Syarrah. Ternyata dia bukanlah satu-satunya yang tak habis pikir dengan permintaan suaminya, dan bukan hanya suaminya saja yang berneko-neko ingin mendapati istrinya berdandan sesuai keinginannya. Syarrah baru mengerti, istri tidak hanya berusaha menenangkan hati, tapi juga yang menyenangkan untuk dipandang. Seulas senyum tersembul, Syarrah mulai berdamai dengan hatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s