Lecutan

Standar

Ketika pertama kali ditempatkan di ruang mungil ini apa yah yang ku rasakan? Wah pastinya akan nyaman, punya ruangan sendiri tempat nyempil euyy. Belakangan, kenyaman itu jadi bumerang, aku terjerat dalam kata ’nyaman’ dan lupa untuk mewujudkan ’taman’ impian.

Untuk pertama kalinya jadwal kerjaku teramat longgar, apa yang ku rasakan? So pasti menyenangkan, banyak waktu untuk belajar dan berbuat sesuatu. Tapi apa yang terjadi? ’sesuatu’ itu tak jua terbentuk dan terbangun. Hanya bisa terkapar, menunggu waktu berputar tanpa belajar sesuatu apa pun.

Saat diberi jobdesk yang abstrak, apa yang ku pikirkan? Aku akan bebas terbang dan berkembang. Namun nyatanya, seperti terkurung dalam ilusi ’sempit’ tak jua bebas apalagi berkembang. Hanya menjalani rutinitas tanpa darah dan arah.

Apa sih yang ku butuhkan? Sebuah lecutan. Mungkin begini yah, kalo mentalitas kuda masih mengendam dalam jiwa. Tanpa lecutan tak jua bisa bergerak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s