Teringat Kampung Halaman

Standar

Niiiiitttttt … Nitttttttttt … sebuah sms masuk …

Sis, mami lagi di Gombong
Kita mudik yuk, temenin mama lah …


Berawal dari sms singkat itu, maka niat mudik segera terluncur. Setelah lebih dari 5 taon ga nginjek kampung halaman, Insya Allah tahun ini aku akan mudik menjumpai lagi setiap sudutnya, membaui lagi setiap aromanya …

Mengingat kampung halaman, daku jadi teringat :

1. Rumah

Rumah itu mungil aja, terdiri ruang tamu yang berukuran 5 x 2 meter, sungguh tidak proporsional untuk dijadikan ruang tamu. Ruangan lainnya adalah 2 ruang tidur, ruang makan yang menyatu dengan dapur sederhana.

Dindingnya dari gedeg (bambu yang dianyam), daun pintunya ada dua (atas bawah yang bisa dibuka salah satu atau dua-duanya), tralisnya jendelanya berupa jalinan kawat-kawat yang dirangkai berbentuk sarang tawon.

Lantainya kawan, masih lantai tanah, jadi keluar masuk rumah harus menggunakan sandal. Kalo berani nyeker, bisa di sabetin sama nenek ..

Rumah itu dibangun dengan konsep bongkar pasang, jadi saat adenya mama yang paling bungsu nikah, supaya tempatnya lapang untuk hajatan, maka dinding-dindingnya bisa di copot, ntar kalo hajatannya udah selesai dindingnya di pasang lagi, kereenn yaaa .. hehehe …

2.Kali

Di Belakang rumah ada kali, enggak tau tuh kali apa namanya. Yang jelas tuh kali mulitifungsi banget. Bisa buat buang hajat, sewaktu aku kecil di rumah belum ada jambannya, ada juga wc umum yang kalo mo make antri dulu. Lah dari pada kebelet, mendingan lari ke kali deh, tinggal nongkrong di aliran airnya yang deres … ga perlu antre. Tapi biasanya ga berani sendiri sih, harus di anterin sama orang dewasa.

Selain buat buang hajat, kami juga suka mandi-mandi atau sekedar main air di situ. Di beberapa sudut, ada air pancuran, ga tau itu airnya berasa dari kali atau mata air yang lain.
Di saat-saat tertentu, tu kali suka di bendung gitu trus dipasang jaring-jaring … biasanya warga kampung suka panen udang dengan cara seperti itu.

Pernah juga ada peristiwa horor bin misterius, di kali itu. Seorang anak laki-laki hilang saat mandi-mandi di kali itu menjelang maghrib. Seluruh warga kampung mencari .. menyusuri kali. Tapi ga ketemu juga, akhirnya mereka meminta bantuan seorang paranormal yang sudah kenamaan dari kampung sebelah. Menerut penerawangan si paranormal, si anak ini terjebak dalam palung (sumur) di suatu tempat di kali itu. Dengan ilmu-ilmu gaibnya, si paranormal ini berhasil memunculkan si anak itu ke permukaan. Konon, kabarnya tubuh si anak ini udah rusak bolong-bolong tercabik-cabik, kaya abis di makanin gitu. Itu kabar yang tersiar dari mulut ke mulut, benar atau tidaknya Wallahu’alam, aku ga liat dengan mata kepalaku sendiri, karena semenjak hilangnya si anak itu, para orang tua melarang anak-anaknya untuk mandi-mandi di kali. Dan kami anak-anak ini sudah sangat parno, malah ga berani mendekati kali.

3. Mushola

Ga jauh dari rumah, ada mushola yang lumayan gede juga untuk ukuran kampung kecil itu. Di mushola itu lah tempat aku pertama kali mengenal huruf hijaiyah lewat pengajian sore. Tapi aku udah ga inget lagi ustadz siapa yang ngajar kami waktu itu.

Selain buat ngaji n sholat, biasanya sepulang dari sekolah, kami bocah–bocah cilik suka main-main di pelataran mushola yang adem.

4. Sekolah TK

Di sana aku sempat bersekolah TK di tempat yang sama dengan sepupuku bersekolah. Aku inget, pertama kali masuk, aku disuruh nusuk-nusuk gambar. Jadi, bu guru kasih aku sebuah gambar, terus gambar itu harus di copot dengan cara menusuk-nusukkan jarum ke sekeliling gambar itu.

Selain itu, aku juga inget acara senamnya di halaman sekolah. Di mana aku banyakan bengong dan bingung aja, yah namanya juga baru pertama kali sekolah …

Trus, di sana perbendaharaan kataku bertambah, dan satu kata yang paling aku inget, kata ‘banci’. Aku sampe pusing mikirin maknanya, kata itu asing di telingaku, tapi kok kata banci ini mirip-mirip kata ‘panci’ yah. Apa kupingku yang salah denger atau gimana? Karena belum mengenal arti kata ‘banci’, jadi sementara itu setiap ada anak yang menyebut ‘banci’ kepada seseorang, aku ngebayangin orang itu memakai panci, kalo ga di atas kepalanya ya di pantatnya …

5. Dikejar-kejar

Yups .. dikejar-kejar. Jadi, dari kecil emang aku udah bakat jadi selebritis yang dikejar-kejar fansnya. Waktu kecil fans yang ngejar-ngejar aku tuh kebo (gara-gara pake baju merah … loh itu kebo atau banteng yee? yang jelas aku lari terbirit-birit di kejar tuh kebo), dikejar-kejar anak anjing (gara-gara sok ngegodain itu anjing, si anak anjing kegirangan … dipikirnya aku mo ngajak maen kali ya. Jadilah kami maen kejar-kejaran. Aku harus manjat tembok pagar rumah orang n nangkring disitu lama banget sampe yang punya anjing datang dan menyelamatkan anjingnya dari timpukan sendalku … hihihi ) dan dikejar-kejar orang gila (namanya Seni … katanya sih dia keilangan anaknya, makanya suka mupeng kalo ngeliat bocah imut nan manis macam aku, langsung dia ngejar mo meluk sambil histeris, “Anaakkkuu … dimanaaa anakkuuu ….” huuuffffffff.

Beranjak remaja fans yang ngejar-ngejar tuh cowo sambil tereak-tereak, “Mba .. mbaa … masih ada kembaliannya.” Hehehe pesan sponsor tuuhh.
Menuju dewasa fans yang ngejar-ngejar tuh para debitur yang nagih-nagih utang …

6. Mainan

Naahh … dunia anak itu kan dunia bermain yah. Masa kecilku juga penuh dengan permainan. Mainan yang paling seru itu maen boneka. Tapi bonekanya bukan boneka yang cakep seperti barbie gitu, tapi boneka dari kain perca. Terus kami juga kreatif menrancang pakaian-pakaian untuk bonek-boneka kami. Ada juga yang punya otak bisnis, hasil rancangan baju bonekanya di jualin ke temen-temen.
Selain main boneka, kami juga biasa main tanah (makanya jadi cacingan hehehe), main masak-masakan (secara lingkungannya masih asri, banyak tanaman-tanamannya yang bisa di berdayakan jadi sumber makanan tambahan kalo bener-bener kelaperan hihihi), dan main cublak–cublak suweng

cublak cublak suweng
suwenge ting geletek
nganggo kepudung solek
tak ijo royo-royo
sopo gelem delekake
sir – sir pong ‘dele bodhong
sir – sir pong ‘dele bodhong
sir – sir pong ‘dele bodhong-dhong-dhong–dhong ….

7. Pohon bambu

Liat pohon bambu, aku pasti teringat dengan kampung halaman. Bagaimana tidak, disekeliling rumah banyak tumbuh koloni pohon bambu. Apalagi di sepanjang kali, pohon-pohon bambu tumbuh berderet-deret seperti memagari.

Tapi yang paling inget sih suara gesekan bambu-bambu itu jika dimainkan oleh angin. Kalo matahari lagi nongol sih, merdu banget kedengarannya, menenangkan. Tapi kalo matahari udah tenggelam, suara gesekan bambu tertiup angin jadi terdengar horor … membuat bulu roma meremang.

8. Gundul pacul

Ada sebuah lagu rakyat yang biasanya kami nyanyikan, begini syairnya :

Gundul-gundul pacul cul gembelengan 2x
Nyungi-nyungi wakul kul (….)
Wakul glimbang segane dadi sa’ ratan 2x

Lagu sederhana yang mudah di ingat oleh otak kanak-kanak kami, pun kenangan yang tercipta saat aku menyanyikan lagu itu bersama sepupu-sepupu kecilku di suatu malam yang sepi. Saat lagi heboh2nya bertembang sambil cekikikan, tiba-tiba terdengar gedoran keras di pintu. Semua mendadak terdiam, nenek membuka daun pintu bagian atas … ziiingggg … kegelapan yang menyambutnya. Celingak-celinguk … ga ada siapa-siapa di sana. Tanpa di komandoi, kami semua lari terbirit-birit ke kamar dan nyusruk di bawah bantal-bantal. Semenjak itu, ga ada lagi yang berani menyanyikan lagu gundul-gundul pacul lewat maghrib

One response »

  1. met mudik yaaa…….

    semangnya kebali ke rumah….

    klo saya mah disini aja…..soalnya orang badung asli

    salam buat semua keluarga

    dari suguh, diansastro en segenap keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s