Perjalanan

Standar

Tulat …tulit … handphoneku berbunyi … tulat …tulit … begitu bunyinya …

“Halo Assalammu’alaikum …”
“Wa’alaikumsalam … cha … ayo pulang sekarang, mas jemput yah …”
“Hmm … ga bisa sekarang mas … gi rapat evaluasi pensi & pembagian raport nie …”
“Yaaa icha … katanya, mau berangkat ba’da zhuhur …”
“Iya … tapi belum selesai ini mas …. Ba’da ashar deh berangkatnya … mas bobo-an aja dulu dirumah ya … “

Jadi begitulah, rencananya sabtu itu aku dan masku akan berangkat menuju Bandung untuk mengikuti pelatihan “Membangun Bank Soal Bersama Moodle” yang diselenggarakan oleh Rumah Ilmu Indonesia pada hari Ahad, 28 Juni 2009 pkl. 09.00-16.00.

Malam sebelum berangkat, kami berdua sudah mendiskusikan rencana perjalanannya, yaitu :

  1. Menggunakan bus. Tadinya mas-ku mengusulkan naik motor aja. Tapi mengingat rutinitas kami berdua selama 2 pekan terakhir ini yang sangat-sangat padat merayap, belum lagi kondisi tubuh yang sudah mulai melemah, kalau naik motor tentunya akan lebih menguras energi dan ga bisa tidur juga selama di perjalanan. Jadinya diambillah keputusan bulat, yaitu naik bus.
  2. Berangkat ba’da zhuhur. Jadi sampai di Bandung belum terlalu malam dan bisa jalan-jalan dululah di sana. Tapi karena urusan raport baru kelar jam 12 dan jam 1nya ada rapat evaluasi, jadi jam 2.30 baru sampai dirumah, dan itupun belum packing … akhirnya ba’da ashar tepatnya jam 5 baru kami siap berangkat.
  3. Naik busnya dari UKI aja. Mengingat perjalanan terakhir kami ke Bandung, busnya ngetem luamaaaaa banget di UKI. Jadi kalau kita langsung ke UKI kan ga wasting time tuh.
  4. Menginap di rumah Tante di Margahayu Permai. Yang gratisan lebih bae kan daripada yang berbayar … hehehe …

Sesuai dengan janjiku untuk menceritakan perjalanan ini dengan lengkap dan detil, maka aku akan menyajikannya dalam bentuk timeline … kalo dalam bentuk narasi dikhawatirkan kalian semua akan tidurr sebelum ceritanya selesai … jadii …selamat membaca … ^_^

Sabtu, 27 Juni 2009
Pkl. 17.00 WIB

Oke … siaapp berangkat. Tas udah di cangklong, udah muter-muter didepan kaca juga …. Hmm …. Cantik seperti biasa …. Xixixixi
Berjalan perlahan menuju pintu samping, sambil celingak-celinguk kalau-kalau melihat sesuatu yang janggal yang tidak pada tempatnya …. Ceklek … daun pintu di buka … pletaaaaaakkk … nah yang ini bukan suara pintu ditutup, bukan juga suara aku di jitak …. Byyuuuuuuurrrrr …. Astagfirullah … suara apaan tuuuhhh???
Kami langsung berlari ke kebelakang tempat asal suara aneh itu …
Kemudian apa yang terjadi saudara-saudara???
Dari keran wudhu yang copot di kamar mandi terciptalah semburan waterfall yang sangat tinggi, endah dan menggiris hati … pancuran aer yang deras itu dengan teganya membanjiri dapur yang baru saja aku beresin…
Dengan terbirit-birit kami berdua melempar tas … copot kaos kaki … gulung celana … mas-ku dengan sigap menyumbat lubang keran yang copot … sedangkan aku dengan cekatan mengeringkan lantai dapurku, untung kami belum keluar jadi rumah ini selamat dari kebanjiran di musim kemarau …

Pkl. 17.30 WIB

Setengah jam kemudian, suasana sudah aman terkendali … kami kembali merapikan pakaian, muter-muter di depan kaca lagi dan kembali mencangklong tas yang tadi terlempar ….
Sambil celingak-celinguk mengecek kembali rumah yang akan kami tinggalkan malam itu, tiba-tiba … pletaaaaaaakkk ….. byyuuuuuuuuurrrr …. Waterfallnya kembali tercipta ….
Maka adegannya terulang kembali …. Tas dilempar … kaos kaki ditanggalkan … celana di gulung …. mas-ku lompat keluar untuk beli keran baru dan aku ditinggalkan bermain-main waterfall bukan buatan …
Jadi pengen dangdutan …

Basah … basah … seluruh tubuh …
Ah … ah …aahhh … mandi madu …

Pkl. 18.15 WIB

Setelah untuk kedua kalinya, perjalanan kami terhambat …
Akhirnya … ba’da maghriblah baru kami keluar rumah dengan lega… langsung menuju UKI seperti yang telah kami rencanakan.

Pkl. 19.00 WIB

Sampai di UKI …
5 menit ….. 10 menit …. 15 menit …. 20 menit

Bus ke bandung … yang ku tunggu … ku tunggu … tiada yang datang …
Ku telah lama berdiri … berdiri …. Menanti-nanti …
Untung ku pergi bersama … kekasihkuuuu …
Jadi ku kan merasa … riang slaluuuuu …

Sudah hampir setengah jam itu bus ga nongol-nongol juga …
Sementara itu, aku merasa ada gerakan-gerakan aneh … mulanya samaaarrr sekali … lalu lama-lama mulai mendesak … mendesak … dan …

“Mas … icha butuh ke toilet skarang juga …. Sakit perut … beneran … ga boong … “

Kembali … dengan terbirit-birit kami berlari-lari kecil mencari wc umum … yang ternyata ada di seberang jalan …
Setengah jam nongkrong di wc umum, aku keluar dengan wajah penuh peluh … kaki kesemutan …. perut anteng … dan hati tentrem …aaahhh …. Alhamdulillah … Ya Allah … berkahilah para pemilik wc umum ini …. Bisa dibayangkan doonng … gimana paniknya dengan kondisi perut bergejolak sementara ga ada tempat untuk menyalurkan gejolak tersebut …

Pkl 19.30 WIB

Keluar dari wc umum, mas-ku memutuskan untuk merubah rencananya, mengingat busnya ga nongol-nongol sementara waktu sudah beranjak semakin malam, akhirnya kami merubah haluan menuju cawang dengan berjalan kaki. Kata mas-ku di sana ada pool travel cipaganti.

Jadi aku memaksakan kaki kesemutanku untuk berjalan … yang ternyata jauh juga …. Kakiku yang semula cuma kesemutan sekarang sudah jadi lecet … sementara itu, jauh di depanku, mas-ku celingak-celinguk mencoba mengingat letak pool cipaganti, bertanya-tanya sama orang-orang di sepanjang jalan dan akhirnya memutuskan untuk menelepon seseorang. Infonya bikin kami kembali shock … pool cipaganti yang di cawang udah pindah … dan pindahnya ke cibubur … laah … itu mah deket ma rumah kita dooongg … gubrak banget daahh …

Aku udah ga bisa comment macam-macam lagi … bingung … mau diterusin or pulang aja yah? Kalo mas-ku memutuskan untuk pulang … aku ga bakalan complain dah …

Pkl. 20.00 WIB

Kami kembali naik angkot menuju pasar rebo. Turun di depan R.S. Harapan Bunda kemudian naik lagi angkot lagi jurusan kp. Rambutan.
Ternyata mas-ku masih semangat meneruskan perjalanan ini. Walaupun diantara kami sudah tidak ada lagi yang bisa tersenyum ataupun berkata-kata …. Kami hanya berbicara lewat pandangan mata yang mulai sayu dan tidak yakin …
Ya Allah … kenapa perjalanan ini jadi seru gini ya???

Pkl. 21.00 WIB

Sampai di terminal Kp. Rambutan dan berhasil naik ke dalam bus. Aku memutuskan untuk langsung tidur, maksudnya supaya enggak banyak mengeluh, negative thingking dan saling menyalah dengan serunya perjalanan kami ini. Jadilah sepanjang jalan aku tertidur … ga tau deh itu bus ngetemnya lama atau enggak, jalanan macet atau enggak …. Pokoknya aku lumayan pules dah …sampai dibangunin sama mas-ku …

“Cha … icha … kamu telpon tante, kita ga jadi nginep di rumahnya. Kita akan sampai sekitar jam 1 malem nih. Belum perjalanan ke margayahu, enggak enak ngetuk rumah tante tengah malam gini. Kita cari penginapan aja di sekitar Leuwi Panjang. Ntar mas tanya ke kenek bus, siapa tau dia tau …”

Aku manut aja, telp tante bilang ga jadi menginap, sementara mas-ku kasak kusuk dengan kenek bus dan kembali dengan info yang lumayan menggembirakan, ada beberapa penginapan murah di sekitar Leuwi Panjang.

Pkl. 24.18 WIB

Sampai di Leuwi Panjang, dengan bantuan tukang becak, kami diantarkan ke sebuah penginapan yang cukup nyaman dan murah meriah. Hanya saja kamar dan kasur yang nyaman itu tidak bisa membuat kami tidur lelap dengan hati yang kesel dan badan yang pegel. Sepanjang malam gelisah banget …

Ahad, 28 Juni 2009
Pkl 07.00 WIB

Kami sudah siap kembali untuk berangkat menuju Dago, yang semula kami kira adalah tempat diselenggarakannya pelatihan yang akan kami hadiri.

Di terminal ada yang jualan kamus bahasa sunda gitu, harganya murah cuma 2 ribu. Aku beli ah … ku keluarkan uang 5 ribuan, mamangnya bingung ga ada kembalian, dia muter-muter dulu cari tukeran duit, terus kembali ke tempatku … dan berkata, “ Neng … titip ke masjid yah .. . “ dan kemudian … wuussss … dia menghilang … meninggalkan aku dan suamiku yang melongo … tadi dia ngomong apa ya?? Titip ke mesjid?? Terus orangnya kemana?? Udah turunkah?? Cepet banget … Subhanallah … jadi malu sama si mamang, masih pagi, dagangan blom ada yang laku, eh ada yang beli satu tapi uangnya gede, ga ada kembalian, tapi kamusnya ga diminta lagi, malah minta kita infaq-in uangnya ke masjid … kalo aku yang jualan, kamusnya mah aku ambil lagi tuh …. ckckckckck

Perjalanan dari Leuwi Panjang menuju Dago cukup menyenangkan, sepanjang jalan banyak sekali bangunan-bangunan tua yang masih bagus berdiri … aku suka sekali dengan bangunan tua.
Sementara itu, semangat kami kembali membara, hati kami kembali ceria, serta mulai saling bercanda dan menggoda.

Pkl. 08.30 WIB

Sampailah kami di alamat yang kami tuju … lah … kok sepi yaaaa …
Ternyata … tempat yang kami tuju itu adalah markasnya RII sedangkan pelatihannya bukan di adakan disitu tapi ditempat lain ….. salah alamat kita … mas-ku mulai misuh-misuh ….

“Gimana sih cha?? Emangnya kamu ga tanya tempat pelatihannya dimana?”

Walah … ngiceplah aku … dengan menahan emosi aku telpon salah satu pantianya, minta alamat dan rute mobil menuju ke tempat pelatihannya.
Sementara itu perut keroncongan minta di isi, maka sebelum melanjutkan perjalanan, kami nongkrong dulu di pinggir jalan Dago sambil menghabiskan semangkuk bubur ayam dengan lahap, maklum … dari semalem belum maem …

Ternyata, tempat pelatihannya cukup jauh, harus naik angkot 2 kali plus acara salah turun, jadinya kembali jalan lagi dengan menyeret-nyeret kamiku yang masih lecet.

Di angkot, mas ku bertanya harus naik angkot apa untuk kejurusan Gede Bage sama seorang ibu-ibu di depannya. Tapiii … yang memberikan jawaban bukan cuma ibu di depan, tapi teteh di sampingku juga ikut memberikan saran. Angkot jadi rame …

Ga lama kemudian, si ibu turun, “Mas .. mba …saya turun disini. Hhati-hati ya, semoga selamat sampai tujuan. Banyak tanya ajah, kalau di Bandung mah orangnya ramah-ramah, ga mungkin di buat nyasar deh … “

Ketika si teteh turun, dia kasih tau ke sopir, “Eta mang, mas dan mba ini mau turun di Station Hall, nanti dikasih unjuk mobil yang jurusan ke Gede Bage yah … jangan lupa ya mang. Mba .. mas … saya duluan yah … nanti mamang sopirnya yang kasih unjuk mobilnya … hati-hati ya … “
Subhanallah … ramah nian urang bandung yah …

Pkl. 10.45 WIB

“Assalammu’alaikum …” Sapaku ketika masuk
“Wa’alaikumsalam … akhirnya kita bertemu juga” Jawab Kang Reza

Hufff … sampai juga di tempat pelatihannya. Kang Reza Ervani sendiri yang menyambutku.
Langsung di suruh pilih tempat, dan mulai mengikuti pelatihannya.
Sementara itu, tubuh dan otakku sudah tidak kondusif untuk menerima dan menampung input apapun.
Suara Kang Reza Ervani yang lembut mendayu-dayu ketika menjelaskan tentang moodle seperti menyanyikan nina bobo di telingaku …
Untung ada fesbuk … comment-comment di statusku dan chat-chat dari beberapa sahabat FB lumayan menghiburku … kalo ga ada mereka … niscaya aku sudah ambruk dari tadi … apalagi dengan ruangan AC dan karpet tebel yang nyaman, bener-bener sangat menggoda untuk direbahi …

Pelatihannya sangat menarik, tapi aku ga bakalan ceritain tentang isi pelatihannya ya … karena … dalam kondisi jiwa raga yang acak kadul tapi teteup bisa bertahan melek dan mengikuti seluruh instruksi Kang Reza … itu udah bagus banget. Sementara bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain pada kebingungan, tanya ini itu, buat kang Rezanya sibuk melayani mereka, aku malah cengar-cengir, cekakak-cekikik ngechat sama sahabat-sahabat fbku … hihihihi … mas ku di ujung sana melotot lalu ngirim pesan-pesan berikut inih :

“Kamu ngerti enggaak???”
“Yang lainnya punya banyak masalah dan pertanyaan, kamu diem aja dari tadi …”
“Wooiii … itu muka biasa aja dong, jangan kaya orang mau muntah gitu … “
“Cha … bertahanlah, inget … kamu harus bertanggungjawab sama sekolah loh …”
“Icha … focus doooongggg … “
“Cha … jangan melongo aja … ngerti ga kamu??”

Please deh mas … aku kan ga bego-bego amat kaleeee ….

Pertemuan dengan kang Reza sendiri membuatku tambah bersimpati dengan beliau … orang muda yang sangat energik, bersemangat, briliyan, bercita-cita besar … hebat …
Sedangkan kang Reza sendiri pun tak kalah kaget ngeliat aku …
“Kirain orangnya ndut …” katanya atau …
“Kirain kamu tinggi … ternyata kecil yaa …” atau …
“Ternyata aslinya lebih manis dari fotonya yaa… “ Nah kalo yang ini ga terucap sie, tapi … aku yakin, di dalam hatinya kang reza berkata demikian … xixixixi

Pkl. 16.00 WIB

Alhamdulillah … pelatihan selesai … aku bisa melek lagih …
Sementara mas-ku berbincang-bincang sama Kang Reza … aku asyik muter-muter di bangku yang bisa muter itu loh … ga nyambung dah ma percakapan mereka. Percakapan dua orang lelaki yang doyan IT sangat to the point … dalam waktu singkat mereka sudah menyepakati beberapa hal.

Pkl 17.00 WIB

Akhirnya kami pamit.
Perjalanan pulang ini ga gitu ribet … dari tempat pelatihan naik bus sekali menuju Leuwi Panjang.
Di sepanjang jalan, banyak sekali jajanan yang sangat menarik, membuat perut tambah keroncongan …

“Mas … nanti diterminal makan dulu yah … icha laper banget …”
“Ntar aja cha, makannya di Jakarta aja. Mas tata mau cepet2 sampai rumah. “
“Yaelah mas …. Masa musti nunggu lama sie … icha bisa pingsan nie … “
“Ya udah … ntar jajan aja di atas bus, palingan banyak tukang jajanan yang naik tuh … “
“Bener ya… icha mo beli semua jajanan yang di tawarin di bus… “
“Iya .. icha … iya … “

Pkl. 18.10 WIB

Ba’da maghrib …
Sudah nangkring di atas bus AC jurusan Kp. Rambutan. Busnya nyaman deh, kursinya lebih lebar dan empuk.

“Cha … kenapa kita ga naek yang biasa aja sie … yang sebelah itu cuma 25 ribu cha. Yang ini 40 ribu. “
“Yaelah mas … kita tuh lagi cape … naek bus yang lebih nyaman bisa ngurangin hati yang kesel dan badan yang pegel …”
“Eh … Cha … kamu ke wc umum dulu gih, gawat kalo kebelet di di jalan nanti …”

Pkl. 18.45 WIB

Bus merayap … berlahan tapi pasti meninggalkan terminal Leuwi Panjang … setelah komat-kamit berdo’a … hatiku kembali bersenandung

Ke Jakarta .. aku … kan kembaliiii …
Walau apapun yang … kan terjadi …

Tiba-tiba … cuuuuurrrrrrr …. Ayooo tebaaakkk … suara apaa iiituuuuu???
Kami berdua melongo … memandang air yang tiba-tiba mengucur lumayan deras dari saluran AC di atas tempat duduk kami … udah kaya ujan local.
Kursi, sepatu dan rokku basah … terpaksa ngungsi dulu ke depan, bergabung dengan pa supir, sementara kenek bus membenahi kebocoran AC tersebut.

Setelah kebocoran di sumpal dengan hordeng, dan kursi yang basah di lapisi kardus dan koran, kami kembali ke tempat duduk kami. Aku memutuskan untuk langsung tidur … dan itulah yang terjadi … aku pules …les … ga tau apa yang terjadi di sepanjang jalan …

Bangun-bangun sudah di kp. Rambutan dengan kondisi basah … rupanya … sepanjang perjalanan itu, air dari AC tetep mengucur … dan mas-ku ga tidur … karena repot nadangin air itu supaya ga ngebasahin aku … sementara akunya ga perduli … mo basah kuyup kek … yang penting bisa meremin mata …
Aku memandang sekeliling bus … kok ya cuma AC di tempatku doang yang bocor, di kursi-kursi yang laen enggak tuuuhhh …

Pukul 21.30 WIB

Sudah sampai dirumah …
Sudah sholat isya …
Siap-siap mo bobo …
Mas ku berkata, “Cha … kelakuanmu manis banget sepanjang perjalanan kita … ga banyak mengeluh, ngambek atau saling menyalahkan.“
Dan aku pun menjawab, “Abisnya, icha takut, kalo icha berulah, nanti mas ninggalin icha di sana “

Jadi … begitulah cerita lengkapnya …
Perjalanan itu benar-benar ujian kesabaran buat kami …

Sebetulnya dalam 6 bulan terakhir ini, sudah dua kali kami bertandang ke bandung.
Kali yang pertama juga sama serunya …
Diawali dengan sebuah sms yang isinya …

Siska … bapak meninggal tadi pagi.

Singkat dan padat … tapi cukup membuat jantungku nyaris berhenti berdetak.
Mana aku sedang menjalankan tugas sebagai guru pembimbing kunjungan pendidikan ke pabrik faber castell di Bekasi.
Bingung banget … bagaimana caranya supaya cepet sampai ke rumah orang tua.
Sudah terbayang-bayang di pelupuk mata … tubuh bapakku di kafani dan mamaku yang pingsan disampingnya, ade-adeku yang nangis sesenggukan di sekitar jenazahnya … pokoknya gitu deh.
Eeehhh … ketika ditelp … malah orang yang aku sebut “bapak” sendiri yang menjawab telpku … ternyata … yang meninggal itu adalah bapaknya bapakku atau kakekku yang tinggal di bandung … huuufff … padahal … temen2 sampe ikutan panik ngeliat aku pucat, dingin dan limbung …

Jadilah … sore itu … yang kebetulan hari sabtu juga … aku, mas-ku dan ade-ku meluncur menuju bandung. Naiknya dari kp. Rambutan, tadinya kami sudah nongkrong di bus ekonomi biasa … tapi mupeng ngeliat kenyamanan bus AC di sebelah … jadilah kami pindah bus …

Setelah ngetem luamaa banget…akhirnya busnya jalan lembet-lembet … Eeehhh di UKI ngetemnya lebih lama lagi, makanya ketika kali kedua ke Bandung, mas-ku memutuskan untuk langsung nunggu di UKI.
Naah … di tengah perjalanan, tepatnya ditengah2 tol cipularang, tiba-tiba busnya mogok, mesinnya kepanasan mengeluarkan asap yang tebal dan buanyak … semua penumpang turun … harus ganti bus … kami bergerombol di pinggir jalan tol … berdiri dan menunggu luamaaaa bangeeettss … ga ada bus yang mo berenti menampung kami… sementara ituh … aku kebelet pipis, udah nahan dari kp. Rambutan, mpe perutku sakit.

Aku liat bapak2 dengan cueknya pada pipis di pinggir jalan yang gelap di sepanjang tol cipularang … tiba-tiba terbersit ide gila di benakku, disitu ada got, banyak rumput tinggi, dan gelap pula … aahaaa … baru ngebayanginnya aja udah legaaa …

Tapi ketika aku mengutarakan niat konyolku ituh … masku menjawab dengan tatapan tajam dan gelengan kepala yang tegas, artinya … u’are crazy??? Jangan coba-coba … !!!

Jadi … ada yang bisa mengambil hikmah dari ceritaku ini???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s