Dengerin Aja

Standar

telinga

Tilulit … tilulit … tilulit … handphoneku berbunyi …

Aduuhh siapa gerangan yang mengganggu acara masakku pagi ini …

Haloo … Assalammu’alaikum …”

“Wa’alaikumsalam … ini bu siska yah?”

“Iya … dengan siapa ini?”

“Ini bundanya Ali (nama disamarkan) … maaf bu, pagi-pagi mengganggu. Liburan kemana  ibu?”

“Oh iya bunda. Ah … dirumah aja bunda, liburannya kejepit sih, besok harus masuk lagi. Ehm .. ada apa nih bunda?” Yaaahhh … ortu murid nih. Ya Allah … semoga tidak ada apa-apa …

“Ini bu, saya mau tanya ya tentang tugas IPS membuat timeline itu. Maksudnya apa sih bu timeline itu? Terus nilai esensinya dimana? Ibu pernah memikirkan efiensi dari tugas ini enggak?”

Waduuuhhh … perasaan aq kan mau masak yah, bukannya mau ujian??

Yaaahh … jawab apaan nih. Aq berusaha mengorek-ngorek isi otakku mencari kata-kata yang tepat … aaahh ga ketemu …

Ehm … emangnya kenapa bu?Ali ada kesulitan dengan tugasnya?

Yeee … orang nanya malah balik nanya. Gini nih, mati kutu. Maksudnya sih memberi kesempatan kepada otakku yang lemot untuk mencari jawaban yang rada-rada terdengar intelek gitu lah …

Ehm … esensinya apa yak? Efisiensi apa sih?? Ya Allah … kenapa Engkau tidak memberiku kelebihan komunikasi verbal, kecerdasan logika, bahasa atau kecerdasan apalah yang bisa menjawab pertanyaan ini dengan cepat dan tepat …

Keringet dingin sebesar biji jagung sudah muncul satu satu …

Begini ya bu, itu satu kelas kan harus membuat tugas yang sama. Menurut saya itu mubazir. Apalagi setiap anak harus pergi ke warnet mencari data dan gambar yang diperlukan. Kemudian harus mengeprint lebih dari 20 lbr, itukan perlu biaya bu. Apalagi semua kelompok tugasnya sama. Terus dimana letak esensi dan efisiensinya sih?”

Walah … bener juga sih?? Kenapa yak?? Yaelah … masa musti ngalah ma nie ortu?? Siapa sih sebenernya yang jadi guru?

Bu … tugas itu sudah saya berikan sejak seminggu yang lalu. Saya juga sudah membuatkan contohnya, dipajang di kelas agar semua anak bisa melihat. Di kertas tugasnya juga sudah tertulis jelas cara kerjanya dan juga contoh-contoh timelinenya.” Ya ampuunnn … dia nanya apa aq jawabnya apa …  payah nie …

Iya saya mengerti, tapi … “ Waduhh … kayanya cabe abis nie … tukang sayur udah lewat blom ya?? Pikiranku mulai terbagi-bagi, ingin segera mengakhiri percakapan ini

Bu … semua tugas anak sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Dan bentuk tugasnya seperti apa, itu adalah wewenang saya. Ali itu sudah terlambat loh bu mengumpulkan tugasnya, saya sudah memberikan toleransi waktu kepada Ali.” Naahhh …. Senjata pamungkas dah yang keluar … bertahan dan pukul balik …

Iya bu, saya minta maaf. Bukan maksud saya memojokkan ibu. Saya tau pemberian tugas ini adalah wewenang dari ibu.Dan Saya tidak ingin  setelah ini ibu jadi tidak menyukai Ali, saya minta ibu bersikap objektif dengan masalah ini.” Suara si ibu mulai bergetar … menahan emosi … walah … aq sudah menyulut perang ini …

Perasaan hari ini kan hari libur yah …

Aturannya libur juga dong ngurusin murid-murid and konsultasi ortu macam gini.

Tapinya sapa suruh juga buat tugas anak untuk liburan, jadinya gini deh,

Yuuur sayuuuurrr ….” Yah … tukang sayur udah lewat dah tuh … ga dapet cabe dah, apa pake saos aja kali ya?? Ah ga sehat … ehm pake lada aja deh … eh sebenarnya mo masak apa sih aq ini???

Sementara si ibu ini ga bisa di stop lagi … nyerocos teruuss … dan aq tidak kunjung memberikan jawaban yang memuaskannya …

Atau seharusnya aq matiin hp aja kali ya kalo hari libur, biar ga diganggu.

Lah tapinya hp cuma satu-satunya ini. Semua urusan ya di satu nomor ini.

Apa perlu aq punya beberapa hp dengan fungsi yang berbeda???

Seperti adeku, yang ga tanggung-tanggung tiap hari ngantongin 4 hp dengan 4 nomer sekaligus …

Nomer flexy untuk temen2 LDK, nomer simpati untuk temen2 kuliah, nomer im3 untuk keluarga, dan nomer smart untuk internet gratisan.

Walah … bukan aq banget itu. Ga praktis … ribet … kebayang dah kalo keempat-empatnya bunyi, bingung dah mo ngangkat yang mana …

Truss  … gimana urusan si ibu ini, apa sih maunya sebenarnya???

Setelah strategi bertahan dan serang balik ga berhasil, malah cenderung berat sebelah, karena serangan dari kubu si ibu sangat gencar … dan tentunya … dia punya senjata pamungkas berupa semburan kata-kata cerdas bin intelek yang bikin aq garuk-garuk kepala …

Akhirnya, aq mengganti strategi … dengan negosiasi …

Jadi … maunya ibu bagaimana? Apa saran ibu  untuk saya?”

Iya bu, saya mengerti, tugas ini sudah ibu siska rancang jauh-jauh hari sebelumnya, dan ini sudah kepalang basah, saya tetap akan membantu Ali untuk menyelesaikan tugas ini. Hanya saja saya sarankan untuk tugas-tugas ke depan, mohon ibu mempertimbangkan masalah biayanya bu. Jangan sampai terlalu memberatkan. Bayangkan kalau setiap anak harus mengeluarkan minimal 20rb kemudian dikali 24 anak sudah berapa itu bu? Hanya untuk tugas yang sama loh.”
“Kemudian, untuk tugas timeline  yang sama seperti ini, kan bentuk penugasannya tidak melulu berupa hasil cetak bu. Kenapa ga ngumpulin via flashdisk aja. Jadi tetap cari gambar dan data dari internet, terus di lay out yang bagus dan dikumpulkan dalam bentuk soft copy di flashdisk. Saya kira itu lebih efisien kan bu?”

Waduuhhh … kenapa ibu baru mengusulkan sekarang??? Ide bagus itu bu. Sayang saya tidak kepikiran sampai disitu. Ya ya … seharusnya bisa itu bu pake flashdisk … “ Yaaaaa … dasar lemot nie …

Iya bu. Saya suka dengan bu Siska yang sangat kreatif dan selalu mempersiapkan segalanya dengan matang. Hanya saja pastinya ada satu dua hal yang luput untuk di pikirkan. Dan itu yang bisa melihat ya kami ini, orang tua murid.”

”Iya bu, saya jadi malu. Saya minta maaf ya atas respon saya yang jelek di awal tadi. Maklumlah bu, spontanitas menghadapi kritik adalah bertahan dan menyerang balik.”

“Hahahaha … iyalah bu, saya juga pasti akan bersikap seperti itu kalau ada di posisi ibu.”

Selanjutnya, pembicaraan mulai mengalir tenang dan lebih hangat, diselingi dengan tawa-tawa kecil …

Ya Allah … jadi begitu yaaaa … semudah itu …

Mereka hanya ingin didengar …. Dan aq tinggal pasang kuping dan … dengerin aja ….

Di saat berhadapan dengan orang tua yang complain, aq merasa seperti akan di serang. Makanya selalu mempersiapkan benteng untuk bertahan dan amunisi kesalahan anak sebagai senjata menyerang balik.

Emotional Quetionku emang jongkok banget yah …

Padahal … kalau saja bisa bersikap lebih tenang … lihat aja apa yang terjadi.

Aq dapat ide bagus, inspirasi baru, bisa menjalin hubungan hangat dengan ortu, dapat pujian tulus pula …

Ya … hanya semudah itu … dengerin aja …

One response »

  1. bersinergi memang lebih bermanfaat daripada berkonfrontasi. orang yang marah belum tentu benar benar marah, bisa jadi karena dia belum paham saja letrak permasalahannya.

    komunikasi..itu bisa dijadikan kunci…..karena dengannya segala informasi bisa berjalan
    1. benar
    2. akurat
    3. lengkap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s