“Terganggu Bau Badan Ibu”

Standar

Gimana perasaanmu kalau ada yang bilang begitu?

Eitss … tapi jangan salah mengerti, kalimat itu bukan ditujukan untukku.

Lebih tepatnya, kalimat itu kutujukan untuk salah seorang rekan kerjaku.

Tahun ini adalah tahun ke4 aku bekerja di salah satu lembaga pendidikan di bilangan Jakarta Timur, dengan crew sebanyak 40 orang, lembaga tersebut memang terbilang cukup besar. Dari ke-40 rekan kerja tersebut, hanya satu yang sering kali membuat mual orang-orang yang berdekatan dengannya. Tadinya, aku pendam saja aib ini, hanya berusaha menghindari berdiri atau duduk dekat dengan dia.

Suatu ketika, aku dan dua orang rekan yang lain sedang ngobrol ngalur ngidul.

Tadi aku kan naik angkot, terus di Pasar Rebo naik seorang mas-mas yang pake baju dekil banget, penampilannya juga berantakan, mukanya kusut, kaya abis bangun tidur ga mandi gitu deh.” Kata Bu Sintia mengawali.

“Terus mas-mas itu duduknya pas disamping aku. Ga lama, aku ngerasa mual soalnya nyium bau-bau gitu. Eh ga taunya, sumber baunya itu dari si mas-mas disampingku. Aduuuhhh … ga tahan banget deh. Mana angkot lagi penuh lagi, jadinya ga bisa pindah duduknya. Mana macet pula, bayangkan 1 jam duduk di samping orang itu. Akhirnya aku memutuskan turun sebelum tempat biasa aku turun. Bisa pingsan aku, kalau bertahan lebih lama lagi” Bu Sintya bercerita sambil menutup hidung dengan wajah melas, membayangkan kembali penderitaannya di jalan tadi.

Iya … aku juga pernah mengalami hal yang sama. mmm … gimana ya caranya kasih tau temen kita kalau ada yang punya masalah bau badan.” Aku mengomentari, seraya teringat dengan temanku tadi yang punya masalah tersebut.

Eh … iya … gimana ya enaknya. Aku juga punya temen yang punya masalah bau badan. Eh .. jangan-jangan temen kita sama lagi nih.” Kata Bu Puji menimpali. Sambil berbisik, tiba-tiba kami spontan menyebutkan 1 nama diantara rekan-rekan sekerja kami.

Dari percakapan tersebut, kami, terutama aku dan Bu Puji menyusun misi pribadi. Kami bertekad akan membantu Bu U (penderita BB) untuk menghilangkan BBnya. Tapi gimana caranya? Mengingat Bu U orangnya sangat tertutup, sensitiv dan tidak dekat dengan kami. Masa bodo deh, yang penting dihati kami punya niat baik untuk Bu U.

Beberapa hari setelah pembicaraan tersebut, Bu Puji datang mendekatiku dengan tergesa.

Aduuuhh … Bu, aku ga enak banget nih sama Bu U. Dia marah ga yah?” Kata Bu Puji mengawali perbincangan.

Mangnya kenape?” Tanyaku penasaran.

Tadi tuh, aku satu ruang ma dia. Dia duduk di samping aku, eh aku cium bau ga sedap gitu deh. Mana belum sarapan lagi. Tambah eneg aja deh aku. Terus … aku beraniin diri buat nawarin dia parfum gitu. Dia tersinggung ga ya?” Jawab Bu Puji sambil menunjukkan wajah cemas.

Tetapi tidak terjadi apa-apa setelah peristiwa itu. Bu U juga biasa-biasa saja, dan juga masih menebarkan aroma tidak sedap. Berarti tindakan Bu Puji belum bisa menyadarkan dia.

Di waktu yang berbeda, aku kembali terlibat pembicaraan ngalor ngidul dengan rekan kerja yang lain. Dari mereka pun, aku mendapati keluhan yang sama dengan BB Bu U ini. Sayangnya tidak ada seorang pun yang berani untuk berbicara langsung dengan Bu U ataupun memberikan bantuan lain. Mereka hanya bisa berbicara di belakang sambil mengernyitkan hidung. Aku jadi iba dengan Bu U, apa benar-benar dia ga sadar atau sadar dengan masalahnya tapi ga tau cara menanggulanginya? Yang jelas Bu U harus dibantu.

Beberapa bulan telah berlalu. Pagi itu aku kembali terlibat suatu pembicaraan santai beberapa rekan. Bu U juga ikut terlibat dalam pembicaraan tersebut. Seperti biasanya, aku duduk agak jauh dari Bu U. Tapi tiba-tiba Bu U bangkit dari duduk, berjalan ke sampingku dan tetap disitu dengan posisi berdiri dan ketiak terbuka. Walah …. apa yang terjadi selanjutnya. Aku kepayahan untuk berbicara, ingin bernafas dengan mulut, tapi kan lagi ngomong. Aku berbicara dengan ekspresi wajah yang aneh, disertai dengan huek-huek, entah rekan-rekan yang lain sadar atau tidak dengan penderitaanku di ketekin Bu U. Saat itu juga, aku langsung bertekad untuk bicara langsung dengannya saat itu juga. Ketika pembicaraan sudah berakhir, aku menarik Bu U ke sudut, dan bicaralah ….

Sebelumnya, maaf beribu-ribu maaf bu. Aku ingin ngomong sesuatu dengan Ibu …. yang … enggg …yang mungkin akan buat Ibu tersinggung atau marah. Tapi ini demi kebaikan Ibu sendiri. Sekali … aku minta maaf banget, tapi aku harus ngomong sama Ibu … Ibu janji ya ga marah?” Aku mengawalinya dengan perasaan campur aduk, jadi ga ya … ya Alloh … apa yang kulakukan ini???

Gini bu, aku langsung aja. Aku merasa terganggu dengan bau badan Ibu.” Begitulah … akhirnya kalimat itu keluar dari bibirku tanpa perasaan. Karena tiba-tiba aku merasa hatiku kebas … bingung … sekaligus pasrah … kalau dia marah … ya silahkan … ini bukan hal yang mudah untuk diterima memang.

Selama pembicaraan itu Bu U hanya diam dengan wajah berkeringat. Manggut-manggut mengerti dan bilang, “Aku ga ngerti caranya menghilangkan bau badan itu.” Nah …berarti benar, Bu U memang butuh bantuan. Soalnya dia mengaku selalu memakai MBK atau Rexona. Aku sampe bingung kenapa MBK dan Rexona tidak sanggup menahan aroma tidak sedap itu. Akhirnya aku berjanji untuk mencarikannya info tentang cara menghilangkan BB. Kami berpisah dengan permintaan maafku kembali.

Hari itu juga aku berkunjung ke om google, minta bantuan untuk masalahnya Bu U. Aku print out dan langsung kasih ke dia. Tapiiii … ternyata, Bu U tidak menepati janjinya untuk bersikap biasa. Bu U terlihat menarik diri, dan kalau bertemu denganku rasanya dia tidak lagi tersenyum.

Yah …. mungkin caraku ga tepat kali ya dengan bicara blak-blak kan kaya gitu. Dia mungkin tidak terbiasa dengan kritik terbuka. Tetapi minimal aku sudah menunjukkan niat baikku. Semoga Bu U lekas terbebas dari masalahnya, dan bersikap seperti sedia kala.

Info menghilangkan bau badan :

http://afatih.wordpress.com/2007/08/31/cara-menghilangkan-bau-badan/

http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/0725/kes2.html

http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/014/kes1.html

http://www.gaulislam.com/menghilangkan-bau-badan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s