Anak Memprovokasi Ortu untuk Berpisah

Standar

Kaget, mengerutkan jidat or beristigfar setelah membaca judul di atas?

Jujur, saat ini saya sudah memerankannya. Dan rasanya …. semula lega, karena tujuan tercapai (memisahkan mereka) tapi kemudian … rasanya ada yang tak nyaman di hati.

Mau menjudge saya sebagai anak durhaka? terserah, toh saya punya banyak alasan untuk melakukannya. Saya harus memisahkan mamah dari cengkraman bapak. Mamah sama halnya juga dengan saya, seorang wanita yang menderita dalam cengkraman arogansi dan kecemburuan buta dari seorang bapak. Hidup seperti itu sungguh-sungguh membuat gila dan merusak mental.

Mengingat bapak, sedikit sekali saya dapat menceritakan kebaikannya. Kalo mau di list dosa dan kejelekannya dengan mudah dapat saya beberkan secara lisan maupun tulisan. ckckck … begitu buruk ya seorang bapak dimata saya.

Bapak, saat ini berumur 54 tahun, menikah selama 28 tahun dengan seorang wanita. Wanita itu adalah mamah saya, selama pernikahan beliau selalu dihantui oleh rasa cemburu buta suaminya. Bapak seorang yang posesif, tidak bisa melihat mamah berhubungan dengan seorang laki-laki manapun. Tak pandang bulu, apakah laki-laki itu seorang kakek-kakek ataupun seorang teman adeku, semuanya di curigai dan dicemburui. Sedangkan mamah seorang yang ramah, tentunya tak salah apabila beliau menjawab salam atau teguran bahkan mengobrol singkat dengan seorang lelaki tetangganya, teman suaminya, ataupun teman anaknya, tapi sayang keramahan mamah malah membuat bapak murka, gelap mata dan menuduh mamah main mata sampai berzinah … naudzubillahi min dzalik.

Mamah, awalnya sangat bersabar menghadapi ke-posesifan bapak, tetapi lama-kelamaan cemburu buta bapak merubahnya menjadi seorang yang tidak peka, tidak perduli dengan lingkungan dan sangat ketakutan. Mamah pernah bilang, hidupnya seperti dalam botol tidak bebas dan sangat menderita akibat kecurigaan tidak mendasar dari bapak.

Suatu ketika, ditengah cemburu butanya (lagi-lagi tidak berdasar, tidak ada saksi dan bukti) bapak menantang mamah untuk melakukan sumpah menduduki Al-Qur’an. Demi membuktikan tuduhan-tuduhan bapak yang tidak benar dan menunjukkan bahwa mamah tidak bersalah, mamah menyetujui untuk bersumpah menduduki Al-Qur’an, itu berlangsung ketika sama masih duduk di bangku SD. Ternyata, bapak tidak semudah itu percaya dan menghilangkan negatif thinkingnya sama mamah, justur bapak masih merasa kejanggalan dan berdo’a agar ditunjukkan tanda kalau mamah memang bersalah. Menurut bapak, tanda itu ada dan jelas, yaitu berupa parut (luka-luka) di perut mamah yang tidak bisa hilang. Padahal luka-luka itu akibat dari alergi makanan tertentu. Tapi menurut bapak lain lagi, itu adalah tanda dari dosa-dosa mama telah mengkhianati bapak.

Yah, itu dia penyakit bapak. Hebatnya lagi setiap kali bertengkar, bapak selalu menjabarkan ‘dosa-dosa’ mamah sejak dari awal pernikahan mereka. Bayangkan, sudah ratusan kali bapak mencemburui, mencurigai dan berprasangka buruk sama mamah, dan sebanyak itulah yang bapak ungkit ketika mereka bertengkar.

Tidak hanya itu masalah bapak. Bapak pernah melakukan pelecehan seksual terhadap ……ku. Beneran, itu terjadi sejak saya berusia 12 tahun hingga usia saya 23 tahun. Tak terbayangkan ketakutan saya saat itu. Yang bisa saya lakukan hanya berdo’a bapak segera insyaf dan saya segera hengkang dari rumah. Rumah itu tidak pernah menjadi surga tapi neraka bagiku bagi mamah juga. Bapak seorang yang zholim dimata kami. Mamah di tindas dengan rasa cemburu buta, kekasaran verbal dan ringan tangannya (main pukul dan tendang maksudnya). Sedangkan say dilecehkan, dikasari secara verbal dan perbuatan juga.

Apakah aku dendam? Jujur, setelah akhirnya saya bisa pergi dari rumah itu dibawa sama suami (karna pernikahan resmi bukan kawin lari loh) saya sudah bertekad akan mengubur seluruh memori kelam dalam hidup saya, termasuk memaafkan dan melupakan perbuatan bapak. Saya bersikap normal layaknya anak kepada orang tuanya. Dan hubungan kami juga membaik, tapi sayang hubungan bapak dan mamah malah semakin mengenaskan setelah pernikahan saya. Mereka semakin sering bertengkar, apalagi bapak sudah tidak mempunyai pekerjaan tetap dan bapak bukan tipe orang yang giat bekerja dan bertanggungjawab menafkahi keluarga. Akhirnya untuk urusan ekonomi menjadi tanggungan 3 anaknya yang sudah bekerja. Sebagai puncaknya, mereka diminta keluar dari rumah yang telah dikontrak selama 5 tahun ini. Berat yah …

Alhamdulillah, adeku yang nomor dua mengambil rumah BTN di Cileungsi dengan fasilitas dan jaminan dari kantornya. Akhirnya, setelah menunggu selama 2 bulan selama proses pembangunan dan rumah sudah jadi, kami pindah dengan segera walaupun akhirnya masalah-masalah lain membuntuti karena rumah dari BTN ini perlu beberapa renovasi, ditambah listrik juga belum nyambung.

Kini, sebulan setelah pindah kecileungsi, hubungan mamah dan bapak semakin buruk. Aku dan ade-adeku ketakutan dan khawatir dengan keadaan mamah. Disana mamah tinggal jauh dari anak-anaknya. Aku di cibubur, adeku yang no dua di ujung menteng, yang no tiga selalu pulang malam karena kerjanya di depok dan selalu dapat sift sore, yang tinggal hanya di bungsu yang masih bocah, tidak akan bisa membela mamah kalo bapak lagi kalap.

Dan .. bener aja, selasa 27 juli 2008 kemaren, akhirnya apa yang aku takutkan terjadi. Mereka bertengkar hebat dan saling memukul, untuk adeku yang no tiga ada di rumah dan sedang sakit cacar tapi tetep bangun untuk melerai. Mamah telpon ke kantor ketika aku sedang pimpin rapat. Sorenya ketika buka pintu rumah, bapak sudah menungguh. Bapak menceritakan kejadian pagi itu dan menceritakan “dugaan-dugaannya” tentang perilaku mamah yang bejat, suka nyeleweng dan berzinah. Maksudnya untuk meminta pengertian, dukungan dan agar aku tidak menyalahkan bapak atas sikap kasarnya selama ini. Karena sikap kasar itu didasari oleh rasa sakit hati akibat dikhianati oleh mamah, begitu kata bapak. Hem … lucu sekali bapak ini, aku ini bukan baru mengenalnya sebagai bapak, aku sudah hidup selama 28 tahun bersamanya dan sudah bisa melihat jelas permasalahan yang ada. Dalam curhatnya, bapak merasa tidak bersalah, dan menuding mamah menjadi biang keladi segala perilaku menyimpang bapak. Gara-gara merasa kecewa telah dikhianati oleh mamah, makanya bapak melakukan melecehkan aku, berjudi, mabok sampai kasar sama keluarganya, begitu kata bapak. ckckck … aku berhadapan dengan anak kecil yang berumur 54 tahun rupanya. Mendengar curhatan bapak, aku semakin mengerti, bapak punya masalah kejiwaan berat. Rasa cemburu dan posesifnya terhadap mamah di atas batas wajar, dendamnya selama puluhan tahun yang tidak bisa di lupakan juga tidak normal. Terus terang, saat itu, aku melihat bapak bukan dengan rasa sayang, tapi lebih kepada rasa kasihan, kasihan dengan masalah pribadinya yang tidak bisa dia selesaikan sendiri selama puluhan tahun. Terlebih aku kasihan karena aku bertekad harus menyelamatkan mamah dari bapak.

Maka terjadilah pertemuan itu, pada hari Rabu, 30 Juli 2008. Aku sampai jam 13.00 di cileungsi, di sana mamah dan ade-adeku sudah menungguh. Dalam diskusi kami, aku yang paling banyak bersuara, karena aku merasa paling tua, dan memang sifatku yang agresif membuatku dominan. Adeku yang nomor dua belum apa-apa sudah menangis sesenggukan. Saat itu, mamah sudah memutuskan untuk berpisah. Dan aku mendukungnya.

Bapak sampai di rumah jam 16.30 (setelah bertengkar, bapak kabur ke jakarta kerumah sahabatny). Dan kami duduk melingkar di rumah tamu tepat pukul 18.30. Semuanya lengkap ada, sampai yasmin sikecil terpaksa harus ikut mendengarkan kenyataan pahit ini. Adeku yang nomor tiga berbaring di kamar karena masih dipenuhi oleh cacarnya. Yang membuka pembicaraan adalah mamah (tentu saja itu atas doronganku). Mamah mengutarakan isi hatinya untuk minta dicerai. Kemudian, bapak gantian berbicara. Bapak kembali merinci setiap kesalahan dan penghianatan mamah sejak awal pernikahan mereka. Selama 3 jam ke depan, kami hanya saling menjatuhkan, memojokkan, meluapkan emosi serta saling menyalahkan. Bapak sempat beberapa keluar, untuk menenangkan diri, karena terus menerus dipojokkan olehku. Aku bener-bener emosi dan meledak-ledak malam itu. Kalo ini adalah sebuah acara debat kandidat, boleh dibilang peranku adalah moderator yang memprovokasi pembicaraan ke arah yang aku inginkan. Ketika akhirnya bapak bilang masih bisa meneruskan berumah tangga dengan mamah, aku kembali berteriak, tidak bisa terjadi, karena masalah khusialnya yaitu kepercayaan dan komunikasi belum ada komitmen untuk saling memperbaiki dan belajar. Bapak mengajukan persyaratan jika ingin bersama, mamah tidak boleh berhubungan dengan lelaki manapun. Itu bukan indikasi sebuah kepercayaan bukan? Kemudian, untuk komunikasi, menyelesaikan masalah ini saja harus melalui kami anak-anaknya, bukannya ngomong dari hati ke hati berdua dengan mamah.

Akhirnya tepat pukul 21.00 WIB mamah memberanikan diri mengatakan,” Maaf, saya tidak kuat lagi untuk bersama, saya takut. Saya ingin kita berpisah dan setuju untuk pergi dari rumah ini.” Horeeee … akhirnya, mama bisa juga bersikap tegas atas nasibnya. Rasanya lega tapi sedih juga. Aku liat bapak shock mendengarnya. Bapak langsung menunduk, setelah beberapa lama baru bisa berkata menerima tuntutan mamah. Kemudian dia meminta sibungsu untuk mendekat, bapak memeluknya sambil meminta maaf dan berjanji akan datang menjenguknya. Saat itulah, haru itu datang menyeruak dan menyelubungi kami. Belum pernah terjadi kami sekeluarga menangis bersama-sama, terlebih karena ini tangis pilu diambang perpisahan, semoga bukan diambang kehancuran.

Di sela-sela tangisnya, mamah dan bapak meminta maaf kepada kami anak-anaknya karena telah gagal membina rumah tangga dan harus mengorbankan anak-anak, kami pun sebagai anak meminta maaf kepada mereka, terutama aku yang sejak awal dengan agresif melancarkan agresi penyudutan dan pemojokkan kepada bapak. Kemudian, sambil memeluk si bungsu, bapak memutuskan hanya dia saja yang pergi dari rumah, sedangkan mama dan si bungsu tetap di cileungsi. Bapak tidak tega melihat si bungsu harus pindah-pindah tempat dan sekolahnya akan kacau. Akhirnya …. keluar juga bijaknya.

Yah … begitulah …. setengah jam kemudian aku dan suamiku pamit pulang. Besoknya aku telpon mamah untuk tau kabarnya hari itu. Bapak sudah menuntaskan tugas terakhirnya sebagai kepala keluarga, masalah mesin air sudah beres. Kemudian, diantara oleh ade yang nomor 2 bapak ke jakarta ketempat sahabatnya kemudian baru akan kebandung kerumah orang tuanya.

Lega, sedih, pilu, getir, khawatir, cemas, masih melanda di hati ini. Masalah ini bukan sebuah akhir tapi awal dari cerita baru. Aku ga tau apa yang akan terjadi kedepannya. Terus terang aku mengkhawatirkan bapak, dia sendiri sekarang, tidak ada istri dan anak, ga ada lagi yang urus dia. Aku khawatir dia akan jatuh sakit …. atau aku cemas dia masih menyimpan dendam dan melakukan suatu kenekatan … ah …. aku pasrah deh, aku serahkan segalanya sama Alloh …..

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s