Dimsum Terakhir

Standar

 

Kali ini novelnya Clara Ng yang saya baca. Sebetulnya novel ini sudah lama saya pegang-pegang, tapi rasanya rada enggak sreg dengan setting ceritanya yang tentang keturunan tionghoa. Tapi entah kenapa, pada kunjungan ke book rent kemarin, kok ya novel itu yang saya ambil, saya pikir saya harus mengisi sedikit dari otak saya tentang kebudayaan-kebudayaan kaum lain walaupun itu bersebrangan dengan kebudayaan dan keyakinan saya. Ya sudah, ‘Dimsum Terakhir’ saya bawa pulang dengan harapan akan menemukan satu hal baru yang menarik di sana.

Dimsum terakhir mengisahkan tentang empat orang wanita kembar. Benar-benar kembar 4, yang lahir dari pasutri keturunan tionghoa. Anak yang lahir pertama di beri nama Siska berkarakter super woman, cantik, energik dan cerdas. Setelah dewasa, Siska menjadi seorang eksmud di Singapura, punya perusahaan yang sukses. Anak yang lahir selanjutnya di beri nama Indah berkarakter keras, kaku, perfeksionis, dapat diandalkan dan suka gagap. Indah berbakat menjadi penulis, karenanya ia bekerja menjadi seorang jurnalis dan sudah berhasil menelurkan satu buah novel bestseller. Anak ketiga yang dilahirkan di beri nama Rosi, yang menyukai alam khususnya bunga rose, selalu cerah ceria sepanjang masa. Sayang Rosi mengalami kelainan orientasi seks, ia merasa terjebak di tubuh yang salah, jiwanya lelaki terjebak di tubuh perempuan. Anak terakhir adalah Novera yang lahir paling belakang, dan juga paling ringkih fisiknya diantara ke tiga saudarinya yang lain.

Singkat kata, sang Ibu telah lama wafat meninggalkan keempat putrinya yang beranjak dewasa dan seorang suami yang tinggal sendiri di rumah. Keempat kembar ini dengan wataknya yang berlawanan saling tidak cocok satu sama lain, disamping menyembunyikan rahasia hidup yang mereka tutupi. Siska merasa nyaman dengan kesendiriannya yang tidak terikat hubungan serius dengan lawan jenis. Indah jatuh cinta dengan seorang pastor yang kemudian menidurinya, tetapi ketika Indah hamil, sang pastor tidak meninggalkan keyakinannya untuk bertanggungjawab terhadap janin yang dikandung Indah, jadilah Indah memutuskan sebagai single mother. Rosi, sedari kecil sudah menunjukkan kecenderungannya sebagai lelaki dari pada wanita, benar-benar menunjukkan jati dirinya dengan mengganti nama menjadi Roni dan berkelakuan seperti lelaki tulen serta mempunyai kekasih seorang wanita bernama Dharma. Sedangkan si bungsu Novera yang pendiam tetapi keras kepala ternyata mengidap kista ganas di rahimnya dan harus merelakan rahimnya diangkat demi menyelamatkan nyawanya. Karena merasa menjadi wanita yang tidak utuh lagi Novera minder menjalin hubungan dengan lelaki. Apalagi pacar terakhirnya kabur karena masalah ini.

Akhir kata, sang papa yang telah renta mengalami serangan stroke. Ke empat gadisnya pulang dengan membawa masalah dan rahasia hidupnya. Hidup bersama lagi demi sang papa yang umurnya tinggal menghitung hari. Di sinilah konflik itu hadir dan berakhir dengan manis. Ke empat wanita yang tercerai berai itu kembali menemukan jalan pulang, menemukan kembali persaudaraan yang lama hilang, menemukan lagi kedamaian dalam pelukan saudara serahim, dan masalah serta rahasia hidup masing-masing mereka pun terkuak dengan jujur dan menemukan muara-muara solusinya sendiri.

Ckck … ngaca sendiri. saya … seorang Siska (beneran bernama siska) anak pertama dari empat bersaudara juga (suatu kebetulan …), dua orang ade saya laki-laki berusia masing-masing 26 dan 21 tahun dan yang terakhir perempuan berusia 11 tahun. Hubungan saya dan adik saya bisa dikatakan baik-baik saja. Sebetulnya konflik-konflik kecil sampai besar pernah terjadi, tetapi itu sudah berlalu lama ketika kami masih sama-sama sekolah. Kini setelah saya dan adik-adik beranjang dewasa, apalagi setelah saya menikah, hubungan kami membaik. Mungkin dulu sering berantem karena sama-sama mengedepankan ego dan emosi kali ya.

Kini saya sudah menikah dan tinggal dengan suami di cibubur, ade saya yang nomor dua bekerja dan kost di ujung menteng sedangkan ade saya yang nomor tiga dan empat masih ikut orang tua di cilengsing. Bisa dikatakan hubungan kami baik-baik saja karena memang kami sangat jarang bertemu, terutama dengan adik yang no dua. Jadi kalo pun disempat bertemu yang bener-bener kangen-kangenan, ga ada lagi konflik-konflik seperti dulu, berebutan remote tv misalnya, saling tuding kalo si bungsu nangis, saling mencaci karena kesal sudah buat kotor rumah, saling menghujat kalo tidak bantu kerjaan rumah, dll. Sekarang … semuanya berubah, kalo kami kumpul di rumah mama, maka yang ada hanya peluk cium kangen, rapel cerita-cerita selama tidak bertemu, gosipin pacar-pacar mereka, atau menjadi penengah ketika mama dan bapak berselisih. Duuhh … kehidupan manusia memang seperti panggung sandiwara ya, semuanya bisa berubah.

Yang jelas setelah baca ‘Dimsum Terakhir’ saya semakin rindu berkumpul dengan ade-ade saya, penasaran menunggu mereka memperkenalkan ‘calon’ anggota keluarga baru dan memboyongnya kerumah kami dan tidak sabar menanti anak-anak keturanan kami lahir satu persatu meramaikan rumah mamah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s