Confession Of a Shopaholic

Standar

Setelah shock dengan seri lajang kotanya Alberthiene Endah “Dicintai Jo” , saya memutuskan untuk mencari cerita lain. Kali ini pilihan saya masih seputar chiklit karya Shopie Kinsella berjudul “Confession Of a Shopaholic” yang bisa dimaknai dengan “Pengakuan seorang gila belanja”.

Saya tertarik membaca novel ini bukan karena saya seorang shopaholic, justru sebaliknya. Saya bukan seorang gila belanja, malahan teramat jarang belanja. Bisa dihitung jari saya membelanjakan uang untuk membeli busana, accessories, ataupun make up. Saya orang yang teramat sederhana dan …. juga tidak punya cukup budget untuk senantiasa membeli barang-barang indah yang baru. Karena itulah, saya ingin tau seperti apa sih kehidupan seorang shopaholic itu, apa yang menjadikannya seperti itu dan seperti apa perasaannya saat berhasil memborong banyak barang indah nan mahal dalam kantong belanjaannya.

Pada novel besutan Shopie Kinsella ini saya telah menemukan jawabannya secara gamblang, sepertinya tokoh Rebecca ada di hadapan saya sedang mupeng di depan etalase yang memajang SALE, atau hilir mudik di sepanjang jalan pertokoan menenteng kantong belanjaan dengan banyak merk ternama tersablon di atasnya. Merk-merk ternama itu asing sekali di telinga saya, bahkan saya pun tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk, bahan dan warna dari semua busana yang dikenakan oleh Rebecca ini, tapi satu hal yang saya rasakan, pastinya barang-barang bermerk itu mampu membuat tubuh pemakainya menjadi lebih indah, cantik, anggun dan berkelas. Sesekali saya membayangkan mengenakan busana-busana tersebut. ehm … seperti apa bentuknya ya???

Di ceritakan dalam novel tersebut, Rebecca adalah seorang gadis metro-pop -sebutan untuk gadis yang fashionable dan berkelas- berusia 25 tahun, masih lajang, tinggal di apartemen daerah Fulham yang konon lumayan elite, serta berprofesi sebagai jurnalis di sebuah tabloid keuangan terkemuka successful financial (kalo ga salah). Rebecca tidak punya sumber pemasukan lain selain pekerjaannya sebagai jurnalis. Ia dibayar sebesar 21.ooo pounsterling untuk pekerjaannya itu. Dan itu gaji yang besar. Tapi pekerjaan jurnalis keuangan yang kerap kali menghadiri acara conferensi press yang diselenggarakan perusahaan keuangan bonafid, menuntutnya untuk berpenampilan menarik. Sebetulnya tuntutan penampilan menarik hanya sebagai alasan semata, karena sesungguhnya Rebecca ini memang benar-benar suka benda-benda indah melekat di tubuhnya.

Singkat cerita, karir jurnalis keuangan Rebecca tidak menolongnya untuk bijak dalam mengatur keuangan pribadinya. Seluruh kartu kreditnya overlimit, dia terjerat hutang sampai ribuan pounsterling.  Di tengah kemelut keuangannya, masalah-masalah baru timbul, seperti kehilangan sahabat karena pindah kerja, kenyataan bahwa dia tak punya pacar yang bisa membiayai hoby belanjanya sampai akhirnya dia harus melarikan diri dari kejaran manajer bank.

Untuk keluar dari masalah keuangannya, Rebecca menuruti saran ayahnya untuk KB dan PP. KB berarti Kurangi Belanja dan PP maksudnya Perbesar Pendapatan. Sebagai langkah awal Becca mencanangkan hidup hebat dengan pola KB. Tapi apa daya, darah shopaholicnya begitu kental mengalir di setiap pembuluh darahnya. Becca gagal berhemat, malah sebaliknya, semakin frustasi semakin boros berbelanja. Akhirnya dengan bantuan Suze sahabat satu apartemennya, Becca beralih mencoba PP dengan mencoba menjadi jurnalis freelance, membuat bingkai di rumah sampai jadi penjaga toko pakaian, dan kesemuanya berakhir dengan mengenaskan (kecuali membuat bingkai, berkat bantuan tangan Suze yang terampil, Becca berhasil mendapatkan 300 poundsterling). Sementara itu, surat-surat tagihan dari bank dan kartu kredit semakin menumpuk, teror telpon pun menghantuinya, belum lagi harapan berhubungan dengan pria-pria multimilyuner kandas dengan menyedihkan.

Akhirnya, di tengah masalah-masalah pelik tersebut, Rebecca memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya dengan maksud bersembunyi dari kejaran hutang dan menenangkan diri dari kegagalan membina hubungan. Tak disangka ternyata kepulangan Rebecca ke rumah orang tuanya menghantarkannya menjadi seorang jurnalis di koran nasional yang bonafid. Rebecca tertarik menulis berita tentang kemalangan tetangganya yang ditipu oleh sebuah perusahaan asuransi. Tulisan Rebecca benar-benar mengguncang dunia, sehingga sebuah stasiun televisi menawarinya untuk mengisi acara morning coffe, sebuah acara pagi yang berating lumayan tinggi. Dengan modal alakadarnya (maklum Rebecca sebenarnya bukanlah seorang pakar keuangan) Becca melangkah maju dengan kaki melayang, bibir bergetar dan jantung berpacu cepat menuju ruang studio, di mana dia akan berhadapan dengan 2,5 juta penonton, 2 orang pembawa acara terkenal dan 2 orang wakil perusahaan asuransi yang dia kritisi di koran.

Dari penampilannya dalam acara perdana tersebut, nasib Rebecca berputar 180 derajat. Di sana dia bertemu kembali dengan Luke Brandon seorang multimilyuner yang akhirny menjadi kencannya, tawaran menggiurkan sebagai nara sumber acara konsultasi keuangan di sebuah stasiun tv nasional, karir cemerlang sebagai jurnalis freelance yang menulis dengan gaya baru yang kritis, serta terbebasnya dari jeratan hutang bank.

Yah … akhir cerita yang happy ending sekaligus memberi lecutan baru untuk saya. Perbesar Pendapat adalah solusi untuk mengakhiri hidup pas-pasan padahal keinginan untuk hidup berkecukupan dan mencicipi barang-barang indah juga senantiasa menggoda diri ini. Emmm …. mau usaha apa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s