Dia meninggalkanku ….

Standar

Kawan, seminggu ini hatiku tertimpa prahara yang menimbulkan derai air mata yang menganak sungai di pipi gembilku … hiks … hiks .. hiks … Prahara itu datang sekonyong-konyong tanpa bisa ku tepis …. datang begitu saja memporak porandakan tatanan hatiku ….

Kawan, tau kah engkau siapa gerangan sumber prahara itu? Tak lain dan tak bukan adalah sahabatku, partner kerjaku, kakakku, orang yang ku kagumi kedalaman pikirannya. Tak sangka hatiku dia akan meninggalkanku sendirian. Namanya Bu Y …. sebut saja demikian. Tiga tahun belakangan ini kami sudah berteman lumayan akrab, bahkan prahara rumah tanggakupun hanya dialah seorang yang tau. Aku anggap dia seorang kakak, sahabat selain partner kerja yang cerdas. Tapiii semua hubungan indah itu hancur dalam sekejap mata ….

Semua berawal dari Rabu, 9 Jan 08 yang lalu. Ketika itu aku memaksanya untuk menemaniku survey lokasi sebuah acara di daerah Lido-Sukabumi. Kebetulan aku sebagai ketua panitia dan dia sebagai bendaharanya. Memang seperti dia enggan untuk pergi tetapi dengan ancamanku “kalo bu Y ga ikut, aku juga ga ikut.” Karena bagi tak ada pilihan selain dia yang menemaniku, karena selain kami, semua panitia adalah laki-laki, aku tak mungkin bebepergian keluar kota dengan laki-laki selain suamiku. Akhirnya dia mengalah, dan ikut pergi denganku. Betapa bahagianya hatiku ditemani olehnya, di sepanjang perjalanan pergi hingga pulang, dia tidak menampakkan kekesalan, sebaliknya … menurutku perjalanan survey itu menyenangkan, kami banyak bercerita dan bercanda.

Tanggal 10-11 Jan setelah survey, aku mengikuti kegiatan lain yang mengharuskan aku untuk menginap di Wisma DPR Puncak. Karenanya aku meninggalkan PR kepada Bu Y untuk menghitung anggaran biaya acara kami nanti. Karena tanggal 12 Jan kami akan rapat dengan seluruh panitia, dan anggaran dana itu harus sudah siap di laporkan. Bu Y terkesan berat hati untuk menyusunnya anggarannya, dengan alasan pekerjaannya sedang menumpuk, tapiii akhirnya dia sms aku juga kalo dia sudah membuat anggaran dananya dengan 2 orang panitia lain.

Tibalah tanggal 12 Jan, aku sengaja datang lebih pagi sebelum rapat dimulai. Aku contack Bu Y meminta dia segera datang karena aku ingin dia menjelaskan rincian anggaran dana yang dia buat. Tetapiii … dia mengaku diare dan minta ijin untuk datang telat. Seingatku aku sms dia 1 x, lalu menelepon 2x. Akhirnya aku memimpin rapat sendiri, dan kebingungan melaporkan anggaran dana rancangan Bu Y yang ternyata salah hitung. Dia datang di pertengahan acara dan tak mau duduk di sampingku untuk menjelaskan perhitungan anggaran dana versinya yang salah. Setelah duduk sebentar dia keluar ruangan dengan alasan ingin membuat surat pemberitahuan. Setelah dia pergi, seorang atasanku memberikan aku masukan atas komposisi panitia yang harus diubah dan aku menyetujuinya. Setelah itu, rapat di tutup dan aku mencari Bu Y untuk mengabarkan hasil rapat tadi termasuk perubahan susunan panitia. Tak di sangkat Bu Y marah besar, dan tak setuju dengan susunan panitia tersebut. Dengan emosi dia mendatangi atasku Pak A dan menyatakan ketidaksetujuannya dengan suara yang sarat emosi. Aku hanya bisa tergugu, pikirku “dia melangkahiku …”

Setelah itu, dia meracau di kantor didengarkan oleh seluruh staff , mencibir kebijakan atasanku tentang komposisi panitia yang tidak sebanding dengan urgent acara kami itu, kemudian … kata-kata pedasnya mulai menukik padaku, dia merasa capek, harus menghandle semua, merasa keberatan jika aku selalu berkonsultasi tentang acara itu kepadanya, padahal dia hanya sebagai bendahara …. deg … rasanya aku tak kuasa lagi mendengar ceracaunya, aku pergi dari ruangan itu ke ruangan sebelah. Dari tempatku menyepi aku masih mendengar ceracaunya yang tinggi penuh emosi. Tak bisa kumenahan lagi air mataku. Aku tak menyangka … kata-kata pedas itu mengalir dari mulutnya, mulut orang yang kukagumi, kusayangi, … rasanya tak percaya …

Aku mencoba untuk menelaah apa maunya, apakah aku benar-benar merepotkan dia dengan selalu tergantung padanya? Ah rasanya tidak juga, karena … acaranya belum juga dimulai dan panitia baru saja terbentuk, singkatkan kami baru 2x ini membicarakan soal acara itu, tapi kenapa seolah-olah aku ini merepotkannya? Pada saat aku membicarakan mengenai perubahan komposisi panitia pun sebenarnya aku cuma memberitahukan saja, karena aku sudah menyetujuinya sebagai ketua panitia. Lalu kenapa dia yang marah? Kalopun tidak setuju, kenapa tak memberitahu aku, biar aku yang meloby Pak A? Kenapa dia merasa capek padahal belum banyak bekerja?

2 hari setelah itu kami bertemu lagi dalam suatu perjalanan ke daerah Sukabumi dalam rangka kunjungan kerja. Di dalam bus yang kusesali kenapa harus duduk bersamanya, dia kembali membuat aku menangis, karena … sekali lagi, dia merasa tak suka aku tergantung padanya. Dia ingin aku memperlakukannya selayaknya posisinya dalam kepanitiaan yaitu sebagai Bendahara tak lebih. Kawan, hatiku hancur … aku merasa dikhianati. Terbayang, masa-masa sebelum ini, kami selalu mendiskusikan segala hal, dari yang buruk sampai yang baik. Kini, ketika aku membutuhkannya, dia meninggalkanku …

Hari ini, 17 Januari aku berulang tahun. Aku sudah menegaskan dalam hati tidak akan menangis, dan mencoba untuk memahaminya dan menempatkan dia seperti kemauannya, just sebagai bendahara, bukan sebagai sahabatku. Tapi Pak D, seorang atasanku yang lain meminta rapat koordinasi lagi hari ini, aku menemukan jadwal dan aku mengkonfirmasikannya langsung pada Bu Ya,

” Bu hari ini kita koordinasi ya!” Kataku

“Koordinasi apa lagi?” Dia menjawab dengan enggan.

“Acara bu.” Jawabku

“Saya Bendahara, ga usahlah ikut koordinasi acara.” Itu jawabnya

“Jadi ibu ga mau ikut?” Tegasku. Dia menjawab dengan tegas pula, “Iya” disertai anggukan kepala. Jelas sudah bagiku, dia menolakku … dan … hatiku masih terlalu sensitive untuk menerima penolakannya. Aku lari menghadap Pak D untuk menceritakan kebingunganku atas sikap Bu Y. Aku mencoba menceritakan seobjektif mungkin dengan mengemukakan kesalahan-kesalahanku juga. Tak disangka, ketika aku curhat berurai airmata di depan Pak D, Bu Y tiba-tiba muncul dengan membawa proposal.

Kawan, Bu Y meledak lagi di depanku. Dia benar-benar menyatakan tidak suka dan keberatan digelendoti olehku. Dengan kata-katanya yang pedas, tinggi dan penuh emosi, aku hanya bisa diam tertunduk, mempermainkan pulpen di jariku seraya mencoba menahan aliran air yang mencoba menembus kelopak mataku.

Kawan, kini hatiku benar-benar pilu. Jelas sudah, dia menarik diri dariku. Gerangan apa yang terjadi dengan persahabatan kami kemarin-kemarin? Kenapa dalam kepanitiaan ini aku tidak bisa menganggapnya sahabat lagi? Kenapa? Rasanya tak habis pikir aku dengan perubahan sikapnya. Pak D mencoba memasukkan kemungkinan-kemungkinan positiv dalam benakku. Tapiii tetap saja belum mampu mengobati luka dan kecewaku.

Kawan, pantaskah aku kecewa, terluka dan merasa dikhianati. Kenapa dia meninggalkanku sendiri dikala aku membutuhkannya? ….

Kawan, aku rindu kala bercengkrama hangat dengannya … dia … sahabatku, partner kerjaku, kakakku, orang yang ku kagumi kedalaman pikirannya … dia meninggalkanku …. hiks …. hiks …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s