Trauma VS Fobia

Standar

Hari ini rencana mau masak nih, menunya sederhana saja ikan bandeng dipedesin. Cuma satu menu untuk makan siang ini. Bumbu sudah di ulek, dan ikannya siap digoreng dulu. Tapiii …ketika ingin memutar switch di kompor gas, tiba-tiba hati ini berdesir-desir, jantungku berpacu lebih keras, dan … aku mengurungkan niat untuk menyalakan kompor. Aku langsung menyambar hp dan menulis sms untuk suamiku isinya :

mas, pulang dong. Icha mau masak, tolong nyalain kompor dooong …

Konyol memang isi smsnya,tapi itulah yang terjadi. Semenjak pernah trauma kompor gas meledak (untung ga kebakaran besar) aku selalu ketakutan menyalakan kompor gas. Kalau ada suami, aku minta tolong dia untuk menyalakannya, sementara aku sembunyi di balik pintu sambil menutup telinga (bunyi ctek ketika api menyala, juga menimbulkan ketakutan bagiku, terbayang kompor akan meleduk). Dan kalau suamiku tak ada di rumah, pilihannya dua : tidak menyalakan kompor sama sekali atau menunggu hatiku tenang (butuh waktu yang lama untuk menguatkan hati menyalakan kompor gas) baru aku masak. 

Itu baru satu hal. Selain pernah trauma dengan kompor meleduk, aku juga punya ketakutan ga jelas sama hewan berbulu bernama kucing. Yang aku takutin dari hewan itu adalah matanya, entah kenapa kalau aku memandang mata kucing, rasanya … akan diterkam sama itu binatang. Terus geli juga sama bulunya, pokoknya ga mau kesentuh deh sama itu hewan. Pernah ya aku mengalami keseleo di mata kaki, terus dibawa sama mama ke tukang urut. Rupanya si mbah tukang urut itu memelihara kucing betina yang baru beranak, anaknya banyak dan berkeliaran disekitarku. Akhirnya aku diurut dengan tubuh gemetar ketakutan, keringat dingin, dan mata mulai melihat bintang-bintang, alias hampir semaput (pingsan), dan itu bukan hanya disebabkan kesakitan diurut tapi karena kucing-kucing itu.

Selain trauma kompor meleduk n takut sama kucing, aku juga punya ketakutan aneh lainnya, yaitu takut sama urat/nadi. Aku ingat sewaktu SMP dulu, ketika pelajaran biologi atau penjaskes gitu, pokoknya ada praktek menghitung denyut nadi. Jadi setiap anak saling menghitung denyut nadi teman sebangkunya. Aku … apa yang aku rasakan saat itu? Rasanya eneg bin mual bin pusing bin berkunang-kunang … lemes semua badanku. Aku pun ga berani menyentuh urat-urat yang menonjol di tangan-tangan suamiku kalau habis kerja berat. Kalau lagi di urut badan di rumah atau spa, aku ga mau di urut di bagian telapak kaki atau telapak tangan, kan di situ banyak urat-uratnya ya. Terus aku juga takut denger detak jantung di dada orang n ga mau menyentuh bagian-bagian tubuh yang bernadi dan berdenyut-denyut. Daannn … baru-baru ini aku ikut pengobatan bekam, kabarnya pengobatan ala Rasulullah itu mampu mengobati menstruasi yang ga lancar dan mampu menyuburkan kandungan. Lalu datanglah aku ke tempat terapinya, ternyata salah satu bagian tubuh yang harus di bekam adalah bagian bawah mata kaki, yang kutau di situ memang numpuk urat-urat dan nadi. Apa yang terjadi? Aku pucat, lemas, keringat dingin, eneg, pusing n nyaris semaput lagi. Akhirnya terapisnya membatalkan acara pengobatan hari itu, dan minta aku menguatkan hati dulu baru balik lagi ke sana.

Takut ketinggian (Rasanya lemas sekali kalo naik eskalator di lantai 3 ke atas di mall-mall, apalagi kalau melihat ke bawah, wuiiihhh …), ruangan sempit (Rasanya ga bisa nafas) dan takut presentasi di depan orang banyak (Ngomong ga teratur, lupa kata-kata, kaki n tangan dingin) juga kerap kali menggangguku. Ya ampuun … aku baru sadar, aku ini lemah sekali yaaa ….. help mee ….

Iseng-iseng aku browsing aja, mudah-mudahan menemukan bantuan n jawaban atas masalah trauma dan ketakutanku tersebut.

Definisi trauma sendiri adalah cedera yang terjadi pada batin dan tubuh akibat suatu peristiwa tertentu. Keberadaan trauma sebagai suatu peristiwa yang pernah dialami sebenarnya. Jadi, bukan merupakan suatu masalah, namun biasanya efek dari trauma tersebut yang menimbulkan berbagai gangguan/keluhan, baik yang bersifat fisik, mental emosional, perilaku sosial, maupun spiritual.

Sedangkan gejala trauma itu sendiri dibagi dalam tiga kelompok, yaitu: Intrusive, Avoidance dan Hyperarousal. Apabila tidak disembuhkan dengan tuntas maka efek trauma paska stres (PTSD) dapat berdampak masalah-masalah yang lebih serius seperti dependensi dan adiksi (alkohol, narkoba, rokok), depresi dan meningkatnya resiko bunuh diri, perceraian dan perpisahan dan masih banyak lagi.

Metode Tapas Acupressure Technique (TAT), yaitu proses sederhana yang membantu menyembuhkan diri sendiri dari stres dan trauma.

  1. Mengetahui akar dari permasalahan yang sedang dihadapi
  2. Menjalani proses TAT yaitu : menstimulasi titik akupunktur di kepala, yang langsung berhubungan dengan pusat otak yang terkait dengan emosi dan memori traumatis
  3. Belajar untuk rileks dan mencapai sikap rileks

    Menurut Gary Bromwell yang juga Direktur
    International Scientology Assist Team (yang menangani korban bencana gempa & tsunami NAD) mengemukakan, mereka yang tertimpa
    musibah mengalami trauma yang cukup menegangkan saraf. Untuk itu, mereka
    memerlukan peregangan. Namun, peregangan itu tidak perlu memakai obat. “Orang yang menderita
    sakit kepala dibawa ke dokter dan disarankan minum obat. Akan tetapi
    orang trauma, seluruh susunan sarafnya tegang. Saraf itu harus
    dikendurkan lagi dan tidak perlu dengan obat. No drug,” paparnya.

Terapis menghilangkan trauma/ketakutan/stress & peningkatan prestasi di performa & anti trauma center

Sumber :

http://www.rileks.com/lifestyle/

http://groups.google.co.id/group/alt.religion.scientology/browse_thread/thread/ad132c86f51a13fa/7399e7ac15fa4107%237399e7ac15fa4107

http://www.yuwie.com/blog/entry.asp?id=96971&eid=50060&t=%5BIlmu%20Pengetahuan%20&%20Teknologi%5D%20Cuci%20Otak

http://www.truenaturehealing.net/html/classes_selfhealing.html

http://klinikservo.wordpress.com/faqs/

http://209.85.175.104/search?q=cache:CNJbOXrBtCAJ:www.a11.ugm.ac.id/info/wp-content/uploads/2006/06/tat.pdf+terapi+trauma&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id

http://www.korantempo.com/news/2002/9/15/Keluarga/28.html

http://www.portalnlp.com/?nlp=DETAIL%20ARTIKEL&detail=26

http://sepia.blogsome.com/2005/05/29/menulis-sebagai-terapi-emosi/

http://www.jawaban.com/news/health/detail.php?id_news=070914191535

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s