Kerjasama VS Tanggungjawab

Standar

kerja-guru.jpgkerja-guru.jpgkerja-guru.jpgkerja-guru.jpgkerja-guru.jpgkerja-guru.jpgkerja-guru.jpgRasanya ingin sekali besok segera berlalu. Kenapa demikian? Karena besok adalah hari penyerahan raport. Aku ingin segera menuntaskan hari berat besok. Kok berat sih? Bagaimana tidak berat, karena dalam waktu 3-4 j am aku harus melayani orang tua murid yang ingin tahu perkembangan belajar anaknya selama semester ganjil ini. Pak Kepsek sampai mengingatkan untuk senam muka dahulu sebelum masuk kelas dan menjumpai orang tua. Karena sudah dapat dipastikan setiap penerimaan raport, guru selalu panen pertanyaan & kritikan, entah itu ditujukan untuk pribadi si guru sendiri ataukah untuk manajemen sekolah secara umum. Yang jelas, kalau tidak senam muka pastinya wajah guru akan terlihat tidak sedap dipandang deh.

Tapi …. kalau menengok kebelakang untuk melihat proses pembuatan raport yang cuma kurang dari satu pekan ini, rasanya tak henti-hentinya aku bersyukur. Bersyukur karena aku bisa bekerjasama dengan wali kelas sehingga pekerjaan yang paling merepotkan itu bisa terasa ringan dan bisa cepat selesai. Karena, mungkin disaat aku menulis di sini, ada beberapa guru yang masih melembur di kantor untuk menyelesaikan raport kelasnya. Tadi saja ketika aku pulang jam 17.30 tadi masih ada 4 kelas yang belum selesai mengeprint raport.

Kenapa mereka bisa telat menyelesaikan tugasnya? Jawaban yang paling sederhana adalah kurangnya kerjasama & tanggungjawab. Raport bukan hanya tanggungjawab wali kelas saja, tetapi seluruh guru kelas yang mengajar dikelas tersebut. Di sekolah tempat aku mengajar, 1 kelas bisa di ajar oleh 4-5 guru. Aku sendiri mengajar di 5 kelas yang berbeda. Bayangkan jika ada 1 saja guru yang terlambat entry nilai, sudah dapat dipastikan raport tidak bisa cepat selesai.

Ketika waktu sudah mepet baru semuanya tersadar dan terburu-buru mengejar ketertinggalan. Kalau sudah terjepit, lalu ambil jalan pintas atau mencoba mentolelir kesalahan dan mengambil dispensasi untuk diri sendiri agar pekerjaan bisa berkurang. ckckck ….

Sebagai contoh, Kelas IV IS seharusnya sudah bisa menyelesaikan raportnya sejak hari rabu, tetapi ada 1 orang guru yang tidak mau mengentri nilainya hari itu, jadilah walas harus menunggu sampai hari jum’at ini untuk menuntaskan tugasnya. Lain halnya dengan kelas III AB & IK, guru-gurunya selalu stay di depan komputer, terlihat sibuk, tetapiiii …. entah apa yang mereka kerjakan, karena sampai jam 17.30 tadi belum ada di antara mereka yang selesai raportnya, dan akhirnya mereka saling menyalahkan. Kelas V IB dan VI IH, juga demikian, bahkan walasnya hampir saja memutuskan untuk tidak mengerjakan raport buku (kebetulan di sekolah raportny ada 3 : raport grafik, raport kemampuan dan raport buku). Padahal setiap walas punya guru pendamping yang bisa diajak bekerjasama untuk mengelola raport ini.

Jadi, hari ini suasana kantor benar-benar panas dan sensi sekali. Semua orang panik, guru-guru senior turun tangan semua untuk membantu walas yang ketinggalan kereta. Kepsek yang punya kegiatan banyak di luar pun harus bersabar menunggui raport-raport yang kejar tayang itu untuk ditandatangani.

numpuk.jpg Puuuuussssssiiiiiinngggg ……… cuape deeeeeeccchhh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s