Hutang … oh … hutang …

Standar

hutang.jpgPernah tidak, ingin menjadi dewa penolong bagi orang lain? Itu dia yang aku rasakan 5 bulan yang lalu. Dengan sedikit uang ditangan, berniatlah aku untuk membantu teman yang datang dengan wajah memelas (khas wajah orang lagi susah) minta dipinjami sejumlah uang. Karena memang keuangan sedang longgar dan hati juga sedang lapang, maka berpindah tanganlah sejumlah uang itu kepada teman itu tadi. Jumlah uangnya sih ga seberapalah, ga besar-besar amat, hanya nilai kepercayaannya yang besar di sini. Percaya 100% bahwa teman yang meminjam itu adalah orang yang amanah atas janjinya ingin memulangkan uangnya 1 bulan kemudian.

Sebulan dari akad hutang tadi telah berlalu, tapiiii …. si teman itu tak kunjung datang tuk memenuhi janjinya. Maka, media telepon jadi andalan untuk mengingatkannya (jujur saya belum pernah bersilahturahim kerumahnya). Tetapi, alangkah kagetnya saya ketika suara di ujung sana menyatakan bahwa teman saya itu tidak tinggal di situ lagi, kabarnya sudah ikut sama mertuanya di Pondok Gede. Deg …. tentu rasanya jantung mau copot, sebuah prasangka buruk terbesit …. dia mau menipuku???

Setelah gencar kasak-kusuk ke beberapa teman yang mengenalnya (tentunya tanpa membuka aib dia looohh …) akhirnya dapet juga nomor Hp suaminya. Tanpa sungkan-sungkan lagi aku telepon saja dia, alhamdulillah dia masih ingat sama janjinya dan minta waktu lagi untuk melunasinya. Oke …. selama masih ada hubungan no problemolah pikirku, asal jangan kabur aja dia ….

Setelah waktu bonus telah jatuh tempo, tidak ada kabar yang menggembirakan, boro-boro kabar, telp atau smspun tidak kunjung datang. Akhirnya dengan sedikit emosi aku telp dan sms balik, ehh … ternyata suaminya kaget setelah tau si istri punya hutang sama orang tanpa sepengetahuannya. Singkat cerita, proses penagihannya puanjang sekali deh. Sempet juga berpikir untuk mengikhlaskannya, karena terakhir aku dengar kabarnya dia sudah melahirkan dengan operasi cesar, pastinya dia butuh uang itu untuk menutupi biaya melahirkannya. Mudah-mudahan Alloh memberi gantinya dengan lebih baik ….

Tapiii berhubung saat ini gigiku lagi senut-senut minta dikeluarkan lewat bedah (akukan lagi kena impaksi angular …) aku ingat lagi deh punya uang di tangan orang, yang kali aja masih jadi rejekiku. Iseng-iseng aku telp deh, eh … suaminya memang berniat untuk datang ke rumah melunasi hutang istrinya. Alhamdulillah …..

Jadi satu pelajaran lagi nih buat aku, jangan gampang percaya deh sama orang untuk urusan hutang piutang ini. Aku jadi inget pesen ibu mertuaku, kalo mau hutang mendingan ke suatu lembaga aja jangan ke orang. Karena kalau ke orang (entah itu saudara atau teman) hubungan silahturahimlah yang dipertaruhkan di sini. Dah banyakkan kita dengar kisah-kisah persaudaraan, persahabatan dan pertemanan yang hancur gara-gara hutang piutang ini. Kalau ke lembaga (bank, koperasi, kantor … asal jangan ke rentenir aja) pastinya kita akan lebih tanggung jawab sama hutang kita, kalaupun telat bayar, yah paling-paling disita …

Mungkin tips-tips berikut ini bisa membantu :

1. Rencana tertulis

Rencana tertulis merupakan hal yang paling penting. Tulislah semua pengeluaran anda berdasarkan skala kepentingan dan tulislah dengan detail, jangan secara umum. Skala kepentingan sangat membantu untuk memisahkan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan berbicara tentang hal-hal yang harus anda miliki dalam usaha melanjutkan hidup. Contohnya makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Keinginan mulai berbicara tentang kualitas barang yang anda miliki. Mobil baru, baju baru, sofa baru, handphone baru dan lain-lain. Ada lagi yang lebih dari keinginan, yaitu hasrat. Hal ini berbicara tentang memiliki barang-barang yang hanya bisa dibeli jika memiliki cadangan uang yang berlebihan. Contohnya berlian, paket berlibur ke Eropa, dan semacamnya. Tulislah semuanya tanpa ada yang terlewati.

2. Mencukupkan diri

Anda yang sudah berhutang harus berlajar untuk mencukupkan diri dalam segala keadaan. Pikirkan hal-hal yang benar-benar perlu saja. Lakukan semua yang sekiranya dapat dikerjakan sendiri tanpa keluar biaya. Jangan terbiasa dengan pembantu di rumah jika anda masih sanggup memasak, mencuci, menyetrika dan menyapu sendiri. Lakukan dengan senang hati.

3. Berpikir dulu sebelum membeli

Dililit atau tidak dililit oleh hutang, setiap orang harus berpikir sebelum membeli. Masukkan pertanyaan-pertanyaan dibawah ini didalam pikiran anda:

• Dimana letak barang ini dalam skala kepentingan?

• Apakah barang ini harus dibeli sekarang atau dapat ditunda?

• Apakah nilai barang ini dapat berkurang di kemudian hari?

• Apakah perawatan barang ini membutuhkan biaya lagi?

• Apakah barang kebutuhan anda ini merupakan kebiasaan buruk yang sebaiknya dihentikan saja?

4. Bayar Cash

Berhentilah belanja menggunakan kartu debit atau kartu kredit. Penggunaan kartu-kartu ini akan membuat anda jauh lebih boros. Bawalah uang secukupnya jika anda pergi berbelanja, sesuai dengan catatan perkiraan harga yang sudah anda buat sebelumnya. Banyak sekali kasus hutang yang disebabkan oleh kartu kredit. Jika ini masalah anda, berhentilah sekarang juga jika tidak ingin terperosok semakin dalam.

5. Ubah aset menjadi modal

Jika anda memiliki asset nganggur yang dapat diubah menjadi alat untuk membayar hutang, segera lakukan. Cara ini efektif untuk dapat secepatnya melunasi hutang-hutang anda. Setelah itu, mulailah ‘hidup baru’ dengan prinsip keuangan yang benar.

6. Mulailah dengan apa yang ada

Prinsip ini dianjurkan bagi mereka yang hendak memulai usaha dan berpikir untuk meminjam uang di bank. Selagi mungkin anda tidak meminjam, hindarilah hal tersebut. Jangan berspekulasi dengan hanya memiliki 10% modal usaha dan meminjam 90%nya. Hal ini hanya akan membuka jalan lebar menuju hutang yang berkepanjangan.

7. Menabung

Menabung bukan hanya kebiasaan yang dipaksakan pada anak kecil saja, tetapi harus menjadi kesadaran setiap orang, termasuk mereka yang sedang memiliki banyak hutang. Walaupun hanya Rp.10.000 setiap minggunya atau lebih kecil, tetap lakukan. Sebagian besar orang yang hidup diatas garis kemiskinan punya kebiasaan menabung. Banyak yang gagal menabung karena kecilnya jumlah yang bisa mereka tabung. Padahal jika terus dilakukan, sedikit-sedikit lama-lama akan menjadi bukit.

Sumber: cbn

Do’a agar dimudahkan melunasi hutang :

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَاغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan rizki-Mu yang halal dari rizki-Mu yang haram dan cukupkanlah diriku dengan keutamaan-Mu dari selain-Mu.” (HR. At-Tirmidzi dalam Kitabud Da’awat, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahihul Jami’ no. 2622, karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Mengenali sumber hutang juga penting loh, makanya klik di sini 

Jangan main-main sama hutang, berbahaya …. ga percaya, baca aja di sini

Atau sedikit tips dari mas vavai dan mohd suhaymi  ini bisa membantu.

Sumber :

http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=417

http://www.mediakonsumen.com/Artikel664.html

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s