Semua Ada Waktunya …

Standar

Aku jadi ingat waktu yang tlah berlalu, dulu di usia awal 20an aku sudah merengek minta dikawinin sama mamah (hehehehe ….) bukannya udah kebelet or apa, tapi ini adalah buah dari kekecewaanku terhadap situasi keluargaku yang menurutku jauh dari harmonis (maafkan aku mah … pak …). Aku ingin cepat-cepat berkeluarga, dan ingin membuktikan bahwa aku bisa membentuk keluarga yang lebih harmonis dari keluarga orang tuaku. Kurasa aku tau yang bikin keluarga ortuku tidak harmonis, terlalu banyak pengekangan tanpa alasan, keegoisan, kemarahan yang tertumpah tanpa termanage, n hal-hal lain yang membuat rumah itu seperti neraka bagiku (bukannya baiti jannati …). Tetapi … kalau memang bukan waktunya tuk menikah … tentunya tidak akan terjadi bukan. Subhanallah … Alloh tau kok waktu yang terbaik untukku.

Akhirnya aku menikah juga, tepat di usia 23 tahun aku di nikahi oleh seseorang yang tidak pernah terpikirkan akan menjadi suamiku. Hanya dalam tempo 1 tahun dari perkenalan kami, pernikahan tersebut berlangsung dengan suasana suka cita walaupun di hiasi dengan selipan-selipan kegelisahan, kekecewaan, n kekhawatiran. Tapi kurasa itu wajar bagi dua kelompok manusia asing yang ingin bersatu membentu ikatan keluarga besar. Subhanallah … Alloh tau, saat itu adalah waktu yang tepat untukku menikah. Karena pernikahan itu melindungiku dari fitnah dan menghindariku dari kemudharatan sebuah hubungan yang tidak dirihoi-Nya.

Kini … hampir 3 tahun sudah kami menikah. Banyak sudah suka dan duka yang aku dan mas Tata alami selami pernikahan kami. Tapi… setelah ku hitung-hitung, ternyata tak terhingga sukanya di bandingkan dukanya. Skillku meningkat pesat atas dorongan mas Tata, sikap tempramenku melunak atas bimbingan suamiku. Subhanallah … ternyata Alloh tau ya, kalo mas Tata bener-bener cocok untukku. Aku tak tau apa jadinya kalau menikah bukan dengan dia. Dia … suamiku yang benar-benar berusaha memahamiku, mengerti aku, peduli dan sayang terhadapku ….

Tapi, yang namanya manusia selalu saja tak pernah puas. Minta di kasih jodoh … sudah di berikan. Kini minta di kasih keturunan, tapi… belum terwujud. Yah … aku pikir sekali lagi, mungkin saat ini bukan waktunya. Ku telusuri lagi diriku, kerjaku, pikirku dan rasaku. Walaupun ada kemajuan, tetapi ternyata masih banyak juga minusnya. Parahnya lagi, minusnya itu sifat-sifat yang bertentangan dengan sifat seorang Ummu sejati.

Sampai saat ini, aku malas masak. Coba bayangkan, mau di kasih makan apa anakku nanti. Padahal aku sudah mengimpikan punya anak yang sehat dan cerdas, tapiii untuk memberikan hidangan tuk suami tercinta saja aku masih enggan masuk dapur. Kalau pun terpaksa masuk dapur, kebanyakan bingungnya mau masak apa ya?? yang sehat, bergizi, murah, meriah n mudah masaknya. ckckckck …. pantesan Alloh belum mengizinkanku mempunyai keturunan…..

Mungkin, selain malas masak itu, ada juga sih beberapa hal minus lainnya, seperti ibadah yaumiahku masih belum maksimal, aku kurang suka terhadap anak kecil (sekarang sih sudah mulai suka ….), masih sangat-sangat egois, dll. Wah …. ternyata banyak juga yah masalah dalam diriku yang kurasa menjadi penyebab kenapa Alloh belum juga mengaruniakan keturunan padaku.

Yah … sekali lagi, tentunya saat ini bukan waktunya untukku menimang baby. Aku harus lebih berusaha lagi memperbaiki diri. Tentunya Alloh akan tau kapan waktunya yang terbaik untuk aku menjadi seorang ummu sejati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s