Curahan Hati

My blog here

Ketemu Mantan Pujaan Hati Oktober 19, 2008

Diarsipkan di bawah: Isi Hatiku — ichasweb @ 6:00 am

Aku terpana memandang seraut wajah di layar komputer. Wajah yang pernah akrab di mata dan di hatiku. Wajah Shahruk Khan yang hitam manis dengan mata elang dan senyum maut. Rasanya tak percaya, ternyata dia dekat sekali denganku kini. Aku menemukan folder foto-foto teman suami, dan ternyata ada dia nyelip diantara puluhan wajah-wajah itu. Benar-benar tak dapat kupercaya.

Maaf mengganggu pak, saya pesan dong tiket Laskar Pelanginya 1 lagi. Terima Kasih, Nanang.” Kira-kira begitu isi sms yang masuk ke hp suamiku malam itu. Nanang, nama itu lagi. Tidak kusangka, sekarang dia kirim sms ke suamiku …. kesuamiku … tiba-tiba pikiranku melayang ke peristiwa 5 atau 6 tahun yang lampau. Ketika kami berdua masih sama-sama terdaftar sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Aku dan Nanang teman satu perjalanan, satu kampus dan satu fakultas, tapi beda jurusan. Mulanya sih biasa saja … ga ada yang istimewa di hati …. tapi tiba-tiba timbul niat isengku untuk menjaili dia lewat hp yang kebetulan baru aku miliki. Pastinya diakan ga tau nomer baruku… maka dengan tekad bulat ku mulailah misi jail ku itu ….

Nanang … ganteng….

Aku pengagum rahasiamu …

Aku tidak dapat menahan rasa geli yang menggelitik perut ketika menekan tombol send pada keypad hpku. Apalagi ternyata dia menanggapi sms kalengku dengan rasa penasaran, makin gencarlah aku menerornya dengan sanjungan-sanjungan maut. Disitulah semuanya bermula … dari tak ada apa-apa menjadi … ada apa-apa … mulanya main api …. eh malah terbakar sendiri … begitulah kira-kira nasibku bila dianalogikan lewat pepatah.

Karena sering kirim sms iseng, jadilah aku sering pula mengamati wajahnya dan gerak-geriknya, lama-lama … ada yang nyangkut di hati. Apakah itu? … sebentuk rasa ingin memiliki. Hebatnya lagi, rasa itu hampir tak terbendung. Aku sebenarnya bukan cewe yang terlalu agresif, tapi dengannya … rasanya beda. Maka aku tak malu-malu untuk menunjukkan rasa sukaku padanya, mulai dari kirim hadiah, sampai nembak langsung. Untuk urusan hadiah ini, aku harus rela bobok tabungan yang seharusnya untuk membayar uang kuliah … rela juga berjam-jam ngubek-ngubek Matahari departemen store untuk membeli sepotong baju untuknya, … eh ternyata baju pilihanku itu, kekecilan … abisnya badannya memang gede tinggi … sedih sekali …

Kasih kado udah, kasih perhatian udah, sering telpon dan sms juga udah, tapi dia masih adem ayem aja, tidak menunjukkan gelagat-gelagat untuk maju … ya udah aku ajalah yang maju kalo gitu. Waktu itu, setting tempatnya di bus Mayasari Bakti 98 jurusan kp. rambutan – pl gadung, perjalanan pulang di bilangan Pasar Rebo. Kami duduk bersisian di bangku deret dua. Aku duduk di pinggir dekat kaca dan dia disampingku, duduk merapat padaku. Waduuuhh … rasanya pengen deh tahan napas, takut dia denger detak jantungku atau isi hatiku yang mulai berteriak … do it …. do it …. now or never ….

Nang, aku suka sama kamu. Aku mau jadi pacarmu.” Aaaahhh …. leganya. Setelah mengucapkan kalimat sakti itu, rasanya aku tidak perduli dengan jawabannya. Tapi waktu itu sih, optimislah … dia ganteng … aku cantik … dia pintar … aku juga pintar … kita sepadanlah … apalagi???

Maaf cha …. aku ga bisa.” Wadawwww …. kaya kena timpuk duren kepalaku …. kaget deh …. why … why … why …

Kamu terlalu kecil …” Ya ampuuun … ternyata alasannya cuma itu … badanku terlalu mungil untuk bersanding dengan body jerapahnya …. memang sih, lucu banget kalau kami sedang jalan berdua, dia tinggi besar menjulang sedangkan aku imut-imut banget …. yaaahhh … dia mengharapkan ceweknya juga punya body jerapah macam dia … mati kutulah aku …

Emang benar-benar ga bisa nang?? Ga perlu lu jawab skaranglah … pikir-pikir aja dulu.” Jawabku … masih menaruh harapan … tapi ternyata di menggeleng dengan pasti …. melenyapkan harapanku ….

Rasanya aneh sekali mendengar penolakkannya, baru kali ini dalam sejarah percintaanku … aku berani nembak cowo … dan langsung di tolak …. gila bener dah …. maluuuuuuuu ciiinggg …

Cium dongg ...” Tiba-tiba dia berkata begitu …… Maksudnyaaaa???

Whaaattt …???????

Cium … pipiku …” Ahaaaa ….

Kalo gw cium, lo mau jadi pacar gw?” … Please … mau dong …. ternyata dia hanya menjawab dengan senyuman.

Kalo lo terima, pasti gw dah cium lo tanpa lo minta.” Bah … nekat sekali aku ….

Pastinya, malam itu tidak terjadi apa … tidak ada cium-ciuman … selebihnya, aku hanya duduk termenung menahan malu sambil membuang wajah ke jendela, sedangkan Nanang sibuk meminta maaf kepadaku …

Begitulah … hari-hari berlalu, rasanya memang sedikit sulit untuk melupakan dia. Apalagi dia kerapkali menggodaku … anak itu memang suka sekali di puja … rasanya ga ikhlas kalau satu pengagumnya pergi. Syukurlah, aku segera menemukan penggantinya … dengan cepat aku melupakan Nanang … tapi tidak dengan rasa maluku …. maka ketika aku menikah setahun kemudian … aku ingin dia datang, aku ingin buat dia sadar … dia telah benar-benar kehilangan aku … pengagumnya yang cantik …

Itulah … terakhir kali aku bertemu dengannya, pada pesta pernikahanku. Selanjutnya … tak ada kabar berita … tau-tau … ya itu wajahnya nongol di antara puluhan rekan kerja suami … lalu tiba-tiba smsnya datang pula …

Aku memandang pantulan tubuhku lewat cermin … hmmm … kini apa pendapat Nanang jika melihatku??? Rasanya aku bisa tebak apa yang akan dia katakan dalam hatinya … untung gw ga terima dia … sekarang dia ndut banget, wajahnya kok jadi kusam dan banyak bekas jerawatnya …. untung…untung …

Aahhh …. masa aku harus malu dua kali siiihhh???

Walaupun aku coba menghindar darinya, ternyata pertemuan itu tak terelakkan juga. Kini kami kembali duduk bersisian …

Lagi hamil anak keberapa?” Gubrak … tuh kaaannn … malu lagi, orang aku lagi ga hamil … perutku memang lagi besar, aku kelebihan bobot 20 kilo semenjak menikah …. hiks …hiks … pertemuan yang menyedihkan ….

Yah begitulah … mantan pujaan hatiku masih seperti yang dulu … masih tetep guanteng, rapi jali dengan body atletisnya yang tinggi menjulang … aaahhh … sosok itu memang tak tergapai … tiba-tiba aku melihat sesuatu yang lain dari peristiwa itu … aku merasa beruntung juga tidak bersanding dengannya … bersamanya aku tidak bisa menjadi diriku sendiri.

Sekarang … aku merasa lebih mencintai suamiku, dia memang tidak seganteng Nanang, tapi wajahnya selalu gemesin … aku suka sekali cubitin pipinya kalo lagi gemes …

Bodynya memang ga tinggi atletis seperti Nanang, tapi sanggup memelukku dengan kekuatan cintanya yang besar …

Senyumnya memang tidak semaut Nanang, tapi senyumnyalah yang menerangiku dan sanggup menghalau awan hitam di hatiku ….

Matanya memang tidak setajam elang seperti mata Nanang, tapi pandangan teduhnya mampu meruntuhkan egoku …

Apalagi sekarang??? Nanang … ternyata bagiku kau hanya masa lalu ….

 

“Terganggu Bau Badan Ibu” Oktober 17, 2008

Diarsipkan di bawah: Pengalamanku — ichasweb @ 7:57 am

Gimana perasaanmu kalau ada yang bilang begitu?

Eitss … tapi jangan salah mengerti, kalimat itu bukan ditujukan untukku.

Lebih tepatnya, kalimat itu kutujukan untuk salah seorang rekan kerjaku.

Tahun ini adalah tahun ke4 aku bekerja di salah satu lembaga pendidikan di bilangan Jakarta Timur, dengan crew sebanyak 40 orang, lembaga tersebut memang terbilang cukup besar. Dari ke-40 rekan kerja tersebut, hanya satu yang sering kali membuat mual orang-orang yang berdekatan dengannya. Tadinya, aku pendam saja aib ini, hanya berusaha menghindari berdiri atau duduk dekat dengan dia.

Suatu ketika, aku dan dua orang rekan yang lain sedang ngobrol ngalur ngidul.

Tadi aku kan naik angkot, terus di Pasar Rebo naik seorang mas-mas yang pake baju dekil banget, penampilannya juga berantakan, mukanya kusut, kaya abis bangun tidur ga mandi gitu deh.” Kata Bu Sintia mengawali.

“Terus mas-mas itu duduknya pas disamping aku. Ga lama, aku ngerasa mual soalnya nyium bau-bau gitu. Eh ga taunya, sumber baunya itu dari si mas-mas disampingku. Aduuuhhh … ga tahan banget deh. Mana angkot lagi penuh lagi, jadinya ga bisa pindah duduknya. Mana macet pula, bayangkan 1 jam duduk di samping orang itu. Akhirnya aku memutuskan turun sebelum tempat biasa aku turun. Bisa pingsan aku, kalau bertahan lebih lama lagi” Bu Sintya bercerita sambil menutup hidung dengan wajah melas, membayangkan kembali penderitaannya di jalan tadi.

Iya … aku juga pernah mengalami hal yang sama. mmm … gimana ya caranya kasih tau temen kita kalau ada yang punya masalah bau badan.” Aku mengomentari, seraya teringat dengan temanku tadi yang punya masalah tersebut.

Eh … iya … gimana ya enaknya. Aku juga punya temen yang punya masalah bau badan. Eh .. jangan-jangan temen kita sama lagi nih.” Kata Bu Puji menimpali. Sambil berbisik, tiba-tiba kami spontan menyebutkan 1 nama diantara rekan-rekan sekerja kami.

Dari percakapan tersebut, kami, terutama aku dan Bu Puji menyusun misi pribadi. Kami bertekad akan membantu Bu U (penderita BB) untuk menghilangkan BBnya. Tapi gimana caranya? Mengingat Bu U orangnya sangat tertutup, sensitiv dan tidak dekat dengan kami. Masa bodo deh, yang penting dihati kami punya niat baik untuk Bu U.

Beberapa hari setelah pembicaraan tersebut, Bu Puji datang mendekatiku dengan tergesa.

Aduuuhh … Bu, aku ga enak banget nih sama Bu U. Dia marah ga yah?” Kata Bu Puji mengawali perbincangan.

Mangnya kenape?” Tanyaku penasaran.

Tadi tuh, aku satu ruang ma dia. Dia duduk di samping aku, eh aku cium bau ga sedap gitu deh. Mana belum sarapan lagi. Tambah eneg aja deh aku. Terus … aku beraniin diri buat nawarin dia parfum gitu. Dia tersinggung ga ya?” Jawab Bu Puji sambil menunjukkan wajah cemas.

Tetapi tidak terjadi apa-apa setelah peristiwa itu. Bu U juga biasa-biasa saja, dan juga masih menebarkan aroma tidak sedap. Berarti tindakan Bu Puji belum bisa menyadarkan dia.

Di waktu yang berbeda, aku kembali terlibat pembicaraan ngalor ngidul dengan rekan kerja yang lain. Dari mereka pun, aku mendapati keluhan yang sama dengan BB Bu U ini. Sayangnya tidak ada seorang pun yang berani untuk berbicara langsung dengan Bu U ataupun memberikan bantuan lain. Mereka hanya bisa berbicara di belakang sambil mengernyitkan hidung. Aku jadi iba dengan Bu U, apa benar-benar dia ga sadar atau sadar dengan masalahnya tapi ga tau cara menanggulanginya? Yang jelas Bu U harus dibantu.

Beberapa bulan telah berlalu. Pagi itu aku kembali terlibat suatu pembicaraan santai beberapa rekan. Bu U juga ikut terlibat dalam pembicaraan tersebut. Seperti biasanya, aku duduk agak jauh dari Bu U. Tapi tiba-tiba Bu U bangkit dari duduk, berjalan ke sampingku dan tetap disitu dengan posisi berdiri dan ketiak terbuka. Walah …. apa yang terjadi selanjutnya. Aku kepayahan untuk berbicara, ingin bernafas dengan mulut, tapi kan lagi ngomong. Aku berbicara dengan ekspresi wajah yang aneh, disertai dengan huek-huek, entah rekan-rekan yang lain sadar atau tidak dengan penderitaanku di ketekin Bu U. Saat itu juga, aku langsung bertekad untuk bicara langsung dengannya saat itu juga. Ketika pembicaraan sudah berakhir, aku menarik Bu U ke sudut, dan bicaralah ….

Sebelumnya, maaf beribu-ribu maaf bu. Aku ingin ngomong sesuatu dengan Ibu …. yang … enggg …yang mungkin akan buat Ibu tersinggung atau marah. Tapi ini demi kebaikan Ibu sendiri. Sekali … aku minta maaf banget, tapi aku harus ngomong sama Ibu … Ibu janji ya ga marah?” Aku mengawalinya dengan perasaan campur aduk, jadi ga ya … ya Alloh … apa yang kulakukan ini???

Gini bu, aku langsung aja. Aku merasa terganggu dengan bau badan Ibu.” Begitulah … akhirnya kalimat itu keluar dari bibirku tanpa perasaan. Karena tiba-tiba aku merasa hatiku kebas … bingung … sekaligus pasrah … kalau dia marah … ya silahkan … ini bukan hal yang mudah untuk diterima memang.

Selama pembicaraan itu Bu U hanya diam dengan wajah berkeringat. Manggut-manggut mengerti dan bilang, “Aku ga ngerti caranya menghilangkan bau badan itu.” Nah …berarti benar, Bu U memang butuh bantuan. Soalnya dia mengaku selalu memakai MBK atau Rexona. Aku sampe bingung kenapa MBK dan Rexona tidak sanggup menahan aroma tidak sedap itu. Akhirnya aku berjanji untuk mencarikannya info tentang cara menghilangkan BB. Kami berpisah dengan permintaan maafku kembali.

Hari itu juga aku berkunjung ke om google, minta bantuan untuk masalahnya Bu U. Aku print out dan langsung kasih ke dia. Tapiiii … ternyata, Bu U tidak menepati janjinya untuk bersikap biasa. Bu U terlihat menarik diri, dan kalau bertemu denganku rasanya dia tidak lagi tersenyum.

Yah …. mungkin caraku ga tepat kali ya dengan bicara blak-blak kan kaya gitu. Dia mungkin tidak terbiasa dengan kritik terbuka. Tetapi minimal aku sudah menunjukkan niat baikku. Semoga Bu U lekas terbebas dari masalahnya, dan bersikap seperti sedia kala.

Info menghilangkan bau badan :

http://afatih.wordpress.com/2007/08/31/cara-menghilangkan-bau-badan/

http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/0725/kes2.html

http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/014/kes1.html

http://www.gaulislam.com/menghilangkan-bau-badan