Arsip Bulanan: Juli 2008

Dimsum Terakhir

Dimsum Terakhir

 

Kali ini novelnya Clara Ng yang saya baca. Sebetulnya novel ini sudah lama saya pegang-pegang, tapi rasanya rada enggak sreg dengan setting ceritanya yang tentang keturunan tionghoa. Tapi entah kenapa, pada kunjungan ke book rent kemarin, kok ya novel itu yang saya ambil, saya pikir saya harus mengisi sedikit dari otak saya tentang kebudayaan-kebudayaan kaum lain walaupun itu bersebrangan dengan kebudayaan dan keyakinan saya. Ya sudah, ‘Dimsum Terakhir’ saya bawa pulang dengan harapan akan menemukan satu hal baru yang menarik di sana.

Dimsum terakhir mengisahkan tentang empat orang wanita kembar. Benar-benar kembar 4, yang lahir dari pasutri keturunan tionghoa. Anak yang lahir pertama di beri nama Siska berkarakter super woman, cantik, energik dan cerdas. Setelah dewasa, Siska menjadi seorang eksmud di Singapura, punya perusahaan yang sukses. Anak yang lahir selanjutnya di beri nama Indah berkarakter keras, kaku, perfeksionis, dapat diandalkan dan suka gagap. Indah berbakat menjadi penulis, karenanya ia bekerja menjadi seorang jurnalis dan sudah berhasil menelurkan satu buah novel bestseller. Anak ketiga yang dilahirkan di beri nama Rosi, yang menyukai alam khususnya bunga rose, selalu cerah ceria sepanjang masa. Sayang Rosi mengalami kelainan orientasi seks, ia merasa terjebak di tubuh yang salah, jiwanya lelaki terjebak di tubuh perempuan. Anak terakhir adalah Novera yang lahir paling belakang, dan juga paling ringkih fisiknya diantara ke tiga saudarinya yang lain.

Singkat kata, sang Ibu telah lama wafat meninggalkan keempat putrinya yang beranjak dewasa dan seorang suami yang tinggal sendiri di rumah. Keempat kembar ini dengan wataknya yang berlawanan saling tidak cocok satu sama lain, disamping menyembunyikan rahasia hidup yang mereka tutupi. Siska merasa nyaman dengan kesendiriannya yang tidak terikat hubungan serius dengan lawan jenis. Indah jatuh cinta dengan seorang pastor yang kemudian menidurinya, tetapi ketika Indah hamil, sang pastor tidak meninggalkan keyakinannya untuk bertanggungjawab terhadap janin yang dikandung Indah, jadilah Indah memutuskan sebagai single mother. Rosi, sedari kecil sudah menunjukkan kecenderungannya sebagai lelaki dari pada wanita, benar-benar menunjukkan jati dirinya dengan mengganti nama menjadi Roni dan berkelakuan seperti lelaki tulen serta mempunyai kekasih seorang wanita bernama Dharma. Sedangkan si bungsu Novera yang pendiam tetapi keras kepala ternyata mengidap kista ganas di rahimnya dan harus merelakan rahimnya diangkat demi menyelamatkan nyawanya. Karena merasa menjadi wanita yang tidak utuh lagi Novera minder menjalin hubungan dengan lelaki. Apalagi pacar terakhirnya kabur karena masalah ini.

Akhir kata, sang papa yang telah renta mengalami serangan stroke. Ke empat gadisnya pulang dengan membawa masalah dan rahasia hidupnya. Hidup bersama lagi demi sang papa yang umurnya tinggal menghitung hari. Di sinilah konflik itu hadir dan berakhir dengan manis. Ke empat wanita yang tercerai berai itu kembali menemukan jalan pulang, menemukan kembali persaudaraan yang lama hilang, menemukan lagi kedamaian dalam pelukan saudara serahim, dan masalah serta rahasia hidup masing-masing mereka pun terkuak dengan jujur dan menemukan muara-muara solusinya sendiri.

Ckck … ngaca sendiri. saya … seorang Siska (beneran bernama siska) anak pertama dari empat bersaudara juga (suatu kebetulan …), dua orang ade saya laki-laki berusia masing-masing 26 dan 21 tahun dan yang terakhir perempuan berusia 11 tahun. Hubungan saya dan adik saya bisa dikatakan baik-baik saja. Sebetulnya konflik-konflik kecil sampai besar pernah terjadi, tetapi itu sudah berlalu lama ketika kami masih sama-sama sekolah. Kini setelah saya dan adik-adik beranjang dewasa, apalagi setelah saya menikah, hubungan kami membaik. Mungkin dulu sering berantem karena sama-sama mengedepankan ego dan emosi kali ya.

Kini saya sudah menikah dan tinggal dengan suami di cibubur, ade saya yang nomor dua bekerja dan kost di ujung menteng sedangkan ade saya yang nomor tiga dan empat masih ikut orang tua di cilengsing. Bisa dikatakan hubungan kami baik-baik saja karena memang kami sangat jarang bertemu, terutama dengan adik yang no dua. Jadi kalo pun disempat bertemu yang bener-bener kangen-kangenan, ga ada lagi konflik-konflik seperti dulu, berebutan remote tv misalnya, saling tuding kalo si bungsu nangis, saling mencaci karena kesal sudah buat kotor rumah, saling menghujat kalo tidak bantu kerjaan rumah, dll. Sekarang … semuanya berubah, kalo kami kumpul di rumah mama, maka yang ada hanya peluk cium kangen, rapel cerita-cerita selama tidak bertemu, gosipin pacar-pacar mereka, atau menjadi penengah ketika mama dan bapak berselisih. Duuhh … kehidupan manusia memang seperti panggung sandiwara ya, semuanya bisa berubah.

Yang jelas setelah baca ‘Dimsum Terakhir’ saya semakin rindu berkumpul dengan ade-ade saya, penasaran menunggu mereka memperkenalkan ‘calon’ anggota keluarga baru dan memboyongnya kerumah kami dan tidak sabar menanti anak-anak keturanan kami lahir satu persatu meramaikan rumah mamah.

Confession Of a Shopaholic

Confession Of a Shopaholic

Setelah shock dengan seri lajang kotanya Alberthiene Endah “Dicintai Jo” , saya memutuskan untuk mencari cerita lain. Kali ini pilihan saya masih seputar chiklit karya Shopie Kinsella berjudul “Confession Of a Shopaholic” yang bisa dimaknai dengan “Pengakuan seorang gila belanja”.

Saya tertarik membaca novel ini bukan karena saya seorang shopaholic, justru sebaliknya. Saya bukan seorang gila belanja, malahan teramat jarang belanja. Bisa dihitung jari saya membelanjakan uang untuk membeli busana, accessories, ataupun make up. Saya orang yang teramat sederhana dan …. juga tidak punya cukup budget untuk senantiasa membeli barang-barang indah yang baru. Karena itulah, saya ingin tau seperti apa sih kehidupan seorang shopaholic itu, apa yang menjadikannya seperti itu dan seperti apa perasaannya saat berhasil memborong banyak barang indah nan mahal dalam kantong belanjaannya.

Pada novel besutan Shopie Kinsella ini saya telah menemukan jawabannya secara gamblang, sepertinya tokoh Rebecca ada di hadapan saya sedang mupeng di depan etalase yang memajang SALE, atau hilir mudik di sepanjang jalan pertokoan menenteng kantong belanjaan dengan banyak merk ternama tersablon di atasnya. Merk-merk ternama itu asing sekali di telinga saya, bahkan saya pun tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk, bahan dan warna dari semua busana yang dikenakan oleh Rebecca ini, tapi satu hal yang saya rasakan, pastinya barang-barang bermerk itu mampu membuat tubuh pemakainya menjadi lebih indah, cantik, anggun dan berkelas. Sesekali saya membayangkan mengenakan busana-busana tersebut. ehm … seperti apa bentuknya ya???

Di ceritakan dalam novel tersebut, Rebecca adalah seorang gadis metro-pop -sebutan untuk gadis yang fashionable dan berkelas- berusia 25 tahun, masih lajang, tinggal di apartemen daerah Fulham yang konon lumayan elite, serta berprofesi sebagai jurnalis di sebuah tabloid keuangan terkemuka successful financial (kalo ga salah). Rebecca tidak punya sumber pemasukan lain selain pekerjaannya sebagai jurnalis. Ia dibayar sebesar 21.ooo pounsterling untuk pekerjaannya itu. Dan itu gaji yang besar. Tapi pekerjaan jurnalis keuangan yang kerap kali menghadiri acara conferensi press yang diselenggarakan perusahaan keuangan bonafid, menuntutnya untuk berpenampilan menarik. Sebetulnya tuntutan penampilan menarik hanya sebagai alasan semata, karena sesungguhnya Rebecca ini memang benar-benar suka benda-benda indah melekat di tubuhnya.

Singkat cerita, karir jurnalis keuangan Rebecca tidak menolongnya untuk bijak dalam mengatur keuangan pribadinya. Seluruh kartu kreditnya overlimit, dia terjerat hutang sampai ribuan pounsterling.  Di tengah kemelut keuangannya, masalah-masalah baru timbul, seperti kehilangan sahabat karena pindah kerja, kenyataan bahwa dia tak punya pacar yang bisa membiayai hoby belanjanya sampai akhirnya dia harus melarikan diri dari kejaran manajer bank.

Untuk keluar dari masalah keuangannya, Rebecca menuruti saran ayahnya untuk KB dan PP. KB berarti Kurangi Belanja dan PP maksudnya Perbesar Pendapatan. Sebagai langkah awal Becca mencanangkan hidup hebat dengan pola KB. Tapi apa daya, darah shopaholicnya begitu kental mengalir di setiap pembuluh darahnya. Becca gagal berhemat, malah sebaliknya, semakin frustasi semakin boros berbelanja. Akhirnya dengan bantuan Suze sahabat satu apartemennya, Becca beralih mencoba PP dengan mencoba menjadi jurnalis freelance, membuat bingkai di rumah sampai jadi penjaga toko pakaian, dan kesemuanya berakhir dengan mengenaskan (kecuali membuat bingkai, berkat bantuan tangan Suze yang terampil, Becca berhasil mendapatkan 300 poundsterling). Sementara itu, surat-surat tagihan dari bank dan kartu kredit semakin menumpuk, teror telpon pun menghantuinya, belum lagi harapan berhubungan dengan pria-pria multimilyuner kandas dengan menyedihkan.

Akhirnya, di tengah masalah-masalah pelik tersebut, Rebecca memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya dengan maksud bersembunyi dari kejaran hutang dan menenangkan diri dari kegagalan membina hubungan. Tak disangka ternyata kepulangan Rebecca ke rumah orang tuanya menghantarkannya menjadi seorang jurnalis di koran nasional yang bonafid. Rebecca tertarik menulis berita tentang kemalangan tetangganya yang ditipu oleh sebuah perusahaan asuransi. Tulisan Rebecca benar-benar mengguncang dunia, sehingga sebuah stasiun televisi menawarinya untuk mengisi acara morning coffe, sebuah acara pagi yang berating lumayan tinggi. Dengan modal alakadarnya (maklum Rebecca sebenarnya bukanlah seorang pakar keuangan) Becca melangkah maju dengan kaki melayang, bibir bergetar dan jantung berpacu cepat menuju ruang studio, di mana dia akan berhadapan dengan 2,5 juta penonton, 2 orang pembawa acara terkenal dan 2 orang wakil perusahaan asuransi yang dia kritisi di koran.

Dari penampilannya dalam acara perdana tersebut, nasib Rebecca berputar 180 derajat. Di sana dia bertemu kembali dengan Luke Brandon seorang multimilyuner yang akhirny menjadi kencannya, tawaran menggiurkan sebagai nara sumber acara konsultasi keuangan di sebuah stasiun tv nasional, karir cemerlang sebagai jurnalis freelance yang menulis dengan gaya baru yang kritis, serta terbebasnya dari jeratan hutang bank.

Yah … akhir cerita yang happy ending sekaligus memberi lecutan baru untuk saya. Perbesar Pendapat adalah solusi untuk mengakhiri hidup pas-pasan padahal keinginan untuk hidup berkecukupan dan mencicipi barang-barang indah juga senantiasa menggoda diri ini. Emmm …. mau usaha apa ya?

Dicintai Jo!

Dicintai Jo!

Sebulan ini saya punya hoby baru, sebenarnya ga baru-baru amat sih, lebih tepatnya hoby lama yang sempet ga kepegang sekarang digandrungi lagi. Apakah itu? baca novel. Dulu semasa masih usia remaja, saya gandrung sekali dengan buku-buku cerita seri detektif, misteri, ataupun percintaan remaja. Waktu masih sekolah dulu kan banyak temen yang punya hoby sama, jadi kita biasa tuker-tukeran buku. Seiring dengan pertambahan usia dan kebutuhan, maka setelah bekerja hoby itu sudah tak terpegang kembali. Kini,  tiba-tiba hadir sebuah book rental di deket rumah. Wusss … rasanya memberikan angin segar untuk kebutuhan baheula yang lama tak terpenuhi. Saking rindunya megang novel, kalo mau diturutin bisa setiap hari saya nyewa novel disitu. Tapi karena kepentok malu disangkanya saya ga punya kerjaan apa baca novel mulu, ya udah diremlah jadi seminggu 3x …hehehe …

Untuk jenis bukunya sekarang bergeser dikitlah, memang diawal saya sedikit bernostalgia dengan meminjam buku-buku Enyd Blyton “Lima Sekawan” atau Alfred Hitchock “Trio Detektif” tapi lama-lama ceritanya ga kena juga, rasanya waktu umur masih belasan baca-baca cerita detektif seperti itu adalah pelepas stress yang paling mujarab deh, tapi sekarang umur udah kepala dua, baca cerita detektif kok ya malah jadi bete … ya udah coba jenis lain. Sekarang novel sastra sudah banyak ragamnya, salah satu ada yang nama chiklit dan teenlit. Kalo chiklit untuk wanita dewasa dan teenlit untuk remaja. Seru juga membaca beberapa novel chiklit khususnya seri lajang kotanya Alberthine Endah. Gila abis ….

 

 Seri lajang kota yang saya baca judulnya Cewek Matre, I Love My Boss and yang terakhir Dicintai Jo. Ketiganya bener-bener mengagetkan dan memabukkan. Saya kaget karena banyak yang gak saya sangka terjadi di luar kehidupan saya, khususnya untuk wanita seusia saya yang masih melajang. Di novel Cewek Matre, saya mengenal kehidupan borju di sebuah kantor radio metropolitan, dimana tokohnya rela menjual diri untuk memenuhi kebutuhannya akan gaya hidup yang mewah. Padahal si tokoh utama tersebut bergaji 4 jt. Di Novel I Love My Boss saya mengenal dunia sekretaris dengan segala kerepotannya meladeni tingkah polah bos-bos besar yang bikin sinting. Kali ini bukan lagi masalah gaya hidup, tapi mengenai persaingan merebut cinta yang ga kalah peliknya dengan strategi para politisi menduduki jabatan. Weleh ….

Di novel terakhir yang saya baca judulnya Di cintai Jo. Berkat novel ini, saya ga bisa tidur semalaman dan besoknya memutuskan bolos kerja. Begitu dahsyatnya pengaruh novel ini pada diri saya. Awalnya saya sempet shock ketika merasa keliru telah memilih novel ini. Ternyata ceritanya mengenai percintaan sejenis, cewek vs cewek…. maksudnya lesbian gitu loh. Tapi karena novel sudah dibayar, terpaksa saya baca juga sampai habis sambil membatin semoga ada hikmah terpendam dari cerita ini. Selembar demi selembar saya baca sampai akhirnya memutuskan tidak berhenti sebelum khatam satu buku. Saya selesai baca jam 2 pagi. Dan hasilnya saya mabuk dan shock beneran. Cinta lesbian ternyata begitu banget, saya jadi menyelami rasa cintanya, rindunya, sakitnya. Di mana-mana ternyata cinta itu memang indah ya …. apakah itu yang dirasakan kepada lawan jenis maupun sesama jenis. Namun sayang satu hal yang terlihat jelas di situ, yaitu ujung-ujungnya … cinta sesama jenis hanya melulu untuk memuaskan syahwat birahi. Memang pengorbanannya mengharukan, perhatiannya melenakan, rindunya mematikan dan cintanya memabukkan, tapi semua harus dibayar dengan pemenuhan syahwat. Mungkin ini yang dicari dari cinta semacam itu, seks sesama jenis ga meninggalkan bekas noda kehamilan bagi wanita.

Sejak membaca novel itu, saya jadi banyak dipusingkan dengan pertanyaan :

“Apa itu Lesbian?”

“Kenapa wanita itu memilih menjadi lesbian?”

“Apakah wanita lesbian juga mendapatkan menstruasi dan dapat hamil?”

Dan pertanyaan lain yang belum juga terjawab. Tapi untuk mencoba mencari tahu lebih jauh juga ga ngerti apa manfaatnya buat saya.

Sampe-sampe setiap bepergian keluar, saya selalu mengamati wanita-wanita dijalan …. seraya sesekali berharap bertemu dengan si jo dengan jaguarnya  …. duh …. meresahkan ga sih ….

Yah … jo … semoga kamu cepet insyaf … jadi saya ga pusing lagi ….