Sampingan

Judul: Cerita Kita – Sepotong Kisah tentang Kita
Penulis: Siska Ferdiani
Penyunting: Tim Pustaka Hanan
Penerbit Digital: Pustaka Hanan
Tebal: 44 Halaman
E-Book ini adalah kerjasama Perpustakaan Online dengan komunitas menulis PNBB

Semua orang terdekat kita bisa menjadi inspirasi dalam menulis, seperti pasangan kita, misalnya. Pasangan tercinta seperti suami atau istri adalah sumber inspirasi yang paling besar. Banyak peristiwa yang terjadi akhirnya menjadi tonggak dalam kehidupan berumah-tangga. Seperti saat kita baru menikah, saat pertama kali membeli rumah, atau saat terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil, yang kalau dipikir-pikir sebenarnya lucu juga dan tidak perlu terjadi. Semuanya itu adalah peristiwa yang menguatkan ikatan kita dengan pasangan.

Banyak kisah kehidupan kita yang begitu berharga dan terserak di banyak tempat. Sayang sekali jika hanya tinggal di dalam ingatan saja dan menjadi kenangan. Karenanya, e-book “Cerita Kita” hadir untuk kembali menyegarkan perasaan cinta kepada pasangan kita. E-book yang ditulis oleh Siska Ferdiani ini, seorang penulis yang aktif di komunitas menulis PNBB – Proyek Nulis Buku Bareng, ditulis dengan bahasa yang mengalir, ringan, namun tetap asyik.

Beberapa kisahnya mungkin juga pernah terjadi pada Anda. Atau kalaupun tidak, cepat atau lambat mungkin akan Anda alami. Atau kalaupun tidak Anda alami, biarlah cerita ini menjadi pengalaman berharga bagi Anda. Siapa tahu kelak, orang-orang dekat di sekitar Anda ada yang membutuhkannya. Kisah ini adalah kisah tentang kita.

Silakan download di sini http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-2-cerita-kita-sepotong-kisah-tentang-kita/

— bersama Siska Ferdiani.

E-Book 1 : Cerita Kita

Fashion Up2date

Standar

@Kamar Biru

 

“Sayang, sini deh. Lihat baju ini cantik ya.”

“Iya mas, cantik.”

“Mas udah pesen itu buat kita, model cowonya kaya gini. Dan ini motif kainnya”

“Pesen? Kapan mesennya? Sama siapa? Berapa duit?”

“Ada deeehh … mauu tauuu ajaaa …”

“Kapan barangnya dikirim?”

“Hmmm … kira-kira seminggu lagi lah.”

“Seminggu lagi? Kok lama bangeeett?”

“Sayang, ini handmade, bukan barang pabrikan. Dia ngerjain barang pesenan mas, kami design ber sama-sama.”

“Design sama-sama? Nanti kalo designnya aku ga suka gimana? Kalo aku jadi keliatan ndut gimana? Kamu tau ukuranku dari mana? Kan itu harus diukur ini itunya maass …”

“Pssstttss … suamimu ga bego-bego amat kale, beres semuaaa …”

“Tapi mas, kamu dapat duit dari mana buat bayarnya???”

“Aduuuuhhh … nyesel dah bilangnya, udaahh kamu terima beres semua deh. InsyaAllah duitnya halal deeehh …”

“Kenapa kamu musti beli sama designer segala sih?”

“Sayang, kamu merasa diri kamu cantik ga?”

“Hmmm … iya, aku cantik!”

“Bagus, inner beauty memang penting, tapi penampilan yang bagus juga penting buat memancarkan inner beauty kamu.”

“Maksudmu”

“Kamu cantik, tapi sayang, penampilanmu tak mendukung. Dandanan kamu sangat konservatif, pemilihan warnanya mati, dan penampilan seperti itu terkesan kamu lebih tua dari usiamu, macam ibu-ibu pengajian gitulah.”

“Loh aku emang udah jadi ibu, dan aku ngaji kan.”

“Tapi sayang, coba liat aku dong, penampilanku keliatan lebih mudakan, kalo kita jalan, seakan-akan aku ni berondong yang lagi kencan sama tante-tante.”

“Emangnya penampilan seperti apa sih yang kamu suka?”

“Ya, main di warna-warna pastellah. Kulitmu terang, jangan pake warna-warna mati, jadinya ga bersinar. Jangan melulu pake bawahan hitam, sekali-kali matchingin sama atasanmu dong. ”

“Aku pake bawahan hitam karena itu bisa dipadupadankan dengan warna atasan apapun. Simple ajakan. Yang penting atasannya warna warni.”

“Nih, ada info dari kawanku. Katanya ada sebuah toko fashion moslem di PIM (Pondok Indah Mall). Kapan-kapan kita harus kesana.”

“Ndak ah, pasti harganya mahal-mahal”

“Iya sih, katanya gamis biasa harganya 300rb, stelan atas bawah min 500rb-an, kerudung 200rb-an”

“Whaaaatt … no way. Baju harga segitu mo dipake kemana? Kalo cuman buat jalan-jalan ke mall aja mah kemahalan. Mending buat bayar cicilan BTN dah.”

“Ah, sayang mah ga mau nyenengin suaminya. Disana tuh yang belanja banyak artis. Kamu harus tau fashion yang up2date.”

“Hmmm … ga ah. Kalo mau belanja, ga perlu ke PIM, ke mall deket-deket sini aja.”

“Perlu ke PIM sayang, buat cari tau model-model yang up2datenya. Aku suka yang model kasual”

“Ga mau. Emang dikira mall-mall di sini ga jual baju-baju up2date apa. Lagian aku bingung deh, aku sih merasa gayaku udah kasual banget. Pake atasan kaos, bergo kaos, bawahannya celana kulot, pake sepatu sandal, mananya sih yang kurang kasual. Bukannya gaya kasual itu gaya santai ya, aku merasa santai dengan pakaianku dan aku suka dengan gayaku.”

“Tapi kamu keliatan kaya ibu-ibu pake pakaian itu, tandanya kamu ga cocok walaupun itu nyaman buatmu. Gayamu juga membosankan, modelnya begitu-begitu aja. Kamu pikirin aku dooongg, aku pengen gandeng cewe cantik bukan buntelan kentut.”

“Whaaattt??? Kamu ngatain aku apa mas??? Asal kamu tau ya, aku pake celana juga untuk kamu, karena kamu ga suka aku pake gamis atau rok kan? Kalau kamu bosan dengan celana hitamku, oke aku akan beli celana yang warna warni. Tapi kan aku mikirin banyak hal mas, belum bayar ini, bayar itu, ya daripada beli celana baru kan mending ngelunasin tagihan. Kamu mana pernah mau tau kan soal itu. Dari awal kan kamu tau, aku ini bukan cewe fashionable. Kenapa kamu baru complain sekarang sih???”

Aku lari keluar kamar. Esmosi menguasaiku. Ku pandangi pantulan tubuhku pada kaca lemari. Beberapa bulan yang lalu dia complain soal bobot tubuhku, mati-matian aku nurunin bobot ini. Sekarang dia complain lagi soal penampilanku, haloooo … kemana sih larinya laki-laki yang bersedia menerimaku apa adanya? Air mata mulai meleleh, seketika itu juga bayangan bertahun-tahun yang lalu kembali berputar ….

Syarrah kecil, tinggal bersama ayah yang pegawai swasta rendahan, ibu yang full time mother dan 3 orang adik yang kecil-kecil. Ibu berusaha memenuhi seluruh kebutuhan keluarga dengan gaji ayah yang tak besar. Dan prioritas utama adalah untuk makan dan pendidikan syarrah kecil beserta adik-adiknya. Tak ada budget untuk membeli pakaian baru setiap bulan. Belanja keperluan sandang ya cuma setahun sekali, saat lebaran akan datang. Syarrah yang prihatin sejak kecil tahu diri, tak pernah menuntut apa-apa, bahkan saat teman-temannya sibuk memamerkan baju-baju beserta accessories model terbaru, syarrah hanya tersenyum kecut, membayangkan akan punya baju-baju seperti itu pun tak pernah. Bisa jajan hari ini dan bayaran tak menunggak adalah sesuatu yang lebih berarti buat syarrah ketimbang baju dan accessories up2date itu.

Sampai beranjak remaja saat undangan ulang tahun semakin banyak dilayangkan kepadanya, Syarrah hanya tercenung di depan lemari bajunya, sebetulnya tak layak di sebut lemari baju. Tempat koleksi baju seragam sekolah, sepotong jins baggy yang sudah tak up2date lagi, 2 potong kemeja yang juga tak up2date dan beberapa potong baju rumah itu hanyalah rak kayu bertutup kain hordeng  yang dibuat sang ayah. Syarrah harus berbagi rak kayu itu dengan ketiga adiknya. Mengingat koleksi bajunya yang benar-benar payah, Syarrah harus pasrah tinggal di rumah saja di malam minggu yang cerah itu. Mengamati langit malam yang tak berbintang, bahkan rembulanpun tak nampak. Apakah dia juga malu karena tak punya baju baru?

Kini, Syarrah kembali merasa nelangsa seperti malam itu. Hanya bedanya, bukan karena syarrah tak punya baju baru. Lemari syarrah kini tak lagi rak kayu bertutupkan kain hordeng, tapi lemari kayu 3 pintu beneran. Syarrah yang malang, ternyata walaupun koleksinya bertambah, tetapi selera fashionnya belum juga berubah. Belum juga paham tentang perkembangan model-model fashion terbaru, belum juga mengerti tentang padu padan warna dan model yang apik untuk membungkus tubuh mungilnya. Tapi tak adilkan jika semua harus menyalahkan Syarrah, dia hanya korban … korban keadaan …

***

Kegalauan itu masih menggelayuti Syarrah hingga ke kantor. Saat lunch pun tak lagi nikmat, Syarrah tak berminat mengobrol ngalor ngidul dengan para sedulurnya di kantor. Syarrah sibuk mengaduk-ngaduk nasi makan siangnya, saat percakapan rekannya sayup-sayup masuk ketelinganya …

“Waaahh … jeng eti pake baju baru nih, jadi beda deh penampilannya.”

“Eh Bu Ira, bisa aja. Ini permintaan suami bu, suamiku sukanya aku berpenampilan kaya gini, pake gamis panjang plus jilbab panjang. Sejujurnya aku sih lebih suka pake baju yang ga terlalu besar kaya gini, tapi mau gimana lagi, suami sudah bertitah, ya aku harus melaksanakan.”

“Tapi kamu keliatan lebih manis loh pake gaya begini, cocok kok buat kamu. Lagian kamu tuh musti bersyukur, lah temenku kasian deh, suaminya tuh suka dia pakai pakaian terbuka-buka gitu, padahal dia udah kepengen banget pakai jilbab, tapi suaminya belum kasih ijin.”

“Bu Eti, Bu Ira, suami-suami emang suka aneh ya maunya. Lah suamiku lebih unik lagi, dia maunya kalo pulang kerja tuh disambut sama istrinya yang udah dandan cantik, pakai baju bagus, kerudung kain, plus brosnya. Jadi aku setiap sore musti berdandan macam orang mo kondangan ajalah.”

“Hahahaaaa … emang gitu Bu Puput, ada suami-suami yang pengen disambut dengan dandanan super minim atau super menor. Hahaaa …”

“Eeehh, bahkan ada loh yang rela ngecat rambutnya jadi blondie karena permintaan suaminya.”

“Ckckck … untung suamiku orangnya ga neko-neko. Tapi kalo dipikir-pikir lagi ya, mereka itu memang layak di hibur dengan tampilan istrinya loh, wong diluar sana setiap hari mereka ketemu sama berbagai model wanita, kalau kita tak pintar-pintar bersolek sesuai seleranya, bisa-bisa suami nanti tergoda, ya korban perasaan dikit mah ga papalah, yang penting suami happy, tambah sayang ma kita, ya kan … hehehe …”

Bersamaan dengan berlangsungnya obrolan, sebuah kesadaran baru menghantam Syarrah. Ternyata dia bukanlah satu-satunya yang tak habis pikir dengan permintaan suaminya, dan bukan hanya suaminya saja yang berneko-neko ingin mendapati istrinya berdandan sesuai keinginannya. Syarrah baru mengerti, istri tidak hanya berusaha menenangkan hati, tapi juga yang menyenangkan untuk dipandang. Seulas senyum tersembul, Syarrah mulai berdamai dengan hatinya.

KAISAR, TANGGA DAN KOLAM

Standar
Sore itu cuaca sangat bersahabat dan hatipun cukup lapang untuk sekedar jalan-jalan dengan Kaisar, putra kami tercinta. Setelah puter-puter kesana kemari, suami membelokkan kendaraannya ke sebuah taman di daerah Cipayung, taman Indraloka namanya. Awalnya Kaisar tak  begitu antusias dengan perjalanan kami, dia terlihat cukup anteng, bener-bener manis kelakuannya, tetapi ternyata itu tak berlangsung lama. Sejak melewati pintu gerbang, Kaisar mulai angot, berontak dari gendongan, minta turun dan jalan sendiri. Tau kah apa yang membuatnya jadi on seperti itu? Tangga, ya, tangga kawan. Kaisar amat sangat menggilai tangga. Tak pernah bosan dan tak kenal lelah, naik turun berkali-kali, tak perduli pinggang emak n bapaknya ampir patah karena Kaisar turut menyeret kami menikmati ‘hoby’nya ini :D.

Setelah berhasil membopong Kaisar dan menjauhinya dari tangga, kami menghela nafas sesaat dan mengatur strategi agar tak melewati tangga itu lagi. Tapi helaan nafas lega itu benar-benar hanya sesaat, karena tiba-tiba Kaisar kembali menggelinjang, dengan sekuat tenaga ingin melepaskan diri, lalu lari menyosong sesuatu di depannya. Copot jantungku, juling mataku, keluar lidahku –lebay :P- melihat Kaisar tanpa pikir panjang hampir nyemplung kolam ikan yang cukup dalam. Ampuuuuunn … untung ayahnya lari terkepot-kepot mengejar dan menangkap tubuhnya tepat waktu. Alhamdulillah Kaisar selamet, tapi sebagai gantinya kolam itu meminta korban sebelah sepatunya Kaisar. Di sisa perjalanan selanjutnya, Kaisar berkelakuan seperti ikan lele kekurangan air, mengelepar-gelepar setiap melihat kolam atau air terjun yang banyak bertebaran di sana.

Rupanya bukan ikannya yang membuatnya tertarik, tapi kubangan airnya yang membuatnya nafsu. Karena aksi selanjutnya semakin bertambah gawat, Kaisar nekat memanjat batu-batuan yang memagari air terjun buatan. Aku sampe keluar keringet dingin sangking stresnya mencoba melunakkan kerasnya kemauan Kaisar. Jalan-jalan sore yang semula damai kini jadi ramai, Kaisar bener-bener tak mudah dipalingkan dari tangga dan kolam. Setelah jalan memutar menghindari spot-spot danger, akhirnya kami melihat pintu gerbang keluar, hanya saja sayang sekali, untuk mencapai gerbang itu sekali lagi kami harus melewati kolam air, dan tak tanggung-tanggung ini adalah raja di rajanya kolam air di taman itu, benar-benar besar dengan patung-patung di atasnya, Kaisar mulai kalap. Tapi kali ini kami melepasnya dengan suka hati, kami biarkan dia menyongsong kolam air itu. Kaisar muter-muter berusaha mencari jalan menuju kolam itu, sementara kami hanya mengamati dari jauh sambil ketawa terpingkal-pingkal melihat aksinya kali ini. Dijamin deh, sampai gempor pun Kaisar ndak bakalan nemu jalan masuk ke kolam itu, wong kolamnya di kelilingi pagar tanaman setinggi badannya Kaisar :D. Setelah kesekian kalinya muter, Kaisar mulai terlihat frustasi lalu mencoba menguak kelebatan pagar tanaman itu, tapi tak berhasil. Kaisarpun menyerah dan menghampiri kami.

Tangga udah ga ada, kolam udah ga keliatan, tapi kini perhatian Kaisar teralih kekandang hewan, ada rusa dan ayam. Kaisar kembali tak dapat dikendalikan, sepatunya yang terhitung masih baru itu sukses menginjak-nginjak tembelek ayam, cukup sudah, kaisaaaaaarrrrr … ayo puuullllaaaaaaaaaaaaaannnnngggg … dan sebagai pengobat ketegangan sarap gara-gara aksi Kaisar hari ini, bunda menuntut traktiran dari ayah, makan lele di pecel lele lela. Ehhh … ga tau, di sana Kaisar bikin onar lagi. Huuufffftt … 

SATE MARANGGI

Standar

Siang itu, tepat saat adzan zhuhur berkumandan, bersamaan dengan matangnya balado ati ampla di wajan, serta berbarengan dengan suara perutku yang berteriak kelaparan, dering telepon berbunyi,

“Cha, papa ngajakin makan siang di luar, sekarang. Udah ditungguin.” Suamiku berseru dari ruangan tengah. Alhamdulillah papa mertua ngajakin keluar, makan diluar is mean jalan-jalan. I love walking-walking :D. Maka segera kutuntaskan masakanku, mandi, sholat dan berkemas. Masakanku bisa menunggu sampai malam atau besok pagi, tinggal diangetin lagi, tapi kesempatan makan-makan n jalan-jalan jarang terjadi, so harus disambut dengan suka hati :D.

Singkat cerita, kami berenam –kedua mertua, seorang ade ipar, suami, aku dan kaisar anakku- sudah duduk rapi di mobil, rupanya Papa mertua berniat mengajak kami mencicipi sate maranggi di Cipanas. Apa itu sate maranggi? Aku tak tau pasti, namanya saja baru ku kenal kali ini, belum juga pernah melihat iklannya di tivi, yang jelas ini makanan khas bangsa ini, bukan dari luar negeri :D.

Sampai di Ciawi, macet menjebak kami, padahal kami berharap segera menyantap sate maranggi untuk menyudahi lapar ini. Untungnya di sepanjang jalan ciawi itu banyak penjaja makanan. Maka 3 bungkus tahu sumedang, gemblong dan kripik singkong ludes tak bersisa. Tapi apakah itu cukup? No, namanya juga orang Indonesia, belum kenyang kalo belum kena nasi :D.

Satu hal yang kupelajari dari setiap perjalanan dengan keluarga mertuaku ini, hati tak boleh rusuh, tinggalkan semua beban pekerjaan n penderitaan lainnya di rumah, di sini semuanya harus ceria dan sebisa mungkin menikmati kondisi yang ada. Seperti saat itu, dengan tangki –baca lambung- masih miring, diperparah dengan macet berjam-jam (kebetulan hari itu tgl 2 Jan 2012 :D), maka untuk menghibur diri, kami sibuk mengabsen rumah makan di sepanjang jalan dan membaca keras-keras menu makanannya sambil berkomentar sana sini. Sebetulnya itu sedikit menyindir Papa supaya menepi dan mengizinkan kami isi tangki, tapi sayang sindiran tak mempan, papa tetep lurus hati dengan tujuan semula, sambil ikut-ikutan menceritakan betapa lezatnya sate maranggi itu, bentuknya yang besar-besar, rasanya yang manis gurih dll, membuat perut semakin keroncongan tetapi hati semakin penasaran, sungguh-sungguh situasi yang dilematis :D.

Singkat cerita, sampailah kami di tempat makan yang dimaksud. Semua orang di mobil –kecuali papa tentunya- melongo melihat tempat itu. Kami pikir akan makan di resto yang nyaman dengan pemandangan pegunungan. Ternyata papa menggiring kami jauh-jauh ke Cipanas dengan menempuh perjalanan 4 jam lebih plus membawa penderitaan kelaparan akut, untuk makan di warung tenda biru yang berdiri di trotoar jalan dengan pemandangan jalan raya puncak-cipanas yang rame pisan :D

Tahukah apa itu sate maranggi kawan? Itu sejenis sate-satean, hanya saja bukan kambing, ayam atau kelinci yang jadi korban, melainkan sapi. Jadi sate maranggi itu sate sapi, entah kenapa di namakan maranggi, papa pun tak tahu asal usulnya. Yang jelas, aku tak dapat menikmatinya, karena teksturnya tak dapat berkompromi dengan gigiku yang goyang. Di perjalanan pulang, semua sibuk berkomentar tentang sate itu, dan merencanakan jumlah yang pas yang seharusnya dipesan untuk memuaskan selera masing-masing, agaknya semuanya bisa menikmati sate itu kecuali aku, buktinya semuanya kompak akan puas dengan 10 tusuk, sedangkan aku bilang cukup 5 tusuk saja sambil berdoa semoga gigiku baik-baik saja :D

Bunda Galau

Standar

Gramedia, ahad sore.

“Silahkan bu, cd brainy babynya, cuma 30rb. Harga paket juga ada, 11 cd didiskon 30% jadi cuma 199rb. Ini untuk usia 6 bln sampai 5 thn ibu. Diajarkan macam-macam dengan gambar hidup yg menarik dan lagu-lagu yang bagus …” Seorang pramuniaga sukses menghentikanku dan memaksaku mendengarkan semua ocehannya. Responku hanya mengangguk-angguk kecil dan tersenyum tipis, kemudian ngeloyor pergi diiringi pandangan maklum sekaligus kasihan dari sang pramuniaga. ‘Maklum’ karena ‘penolakan adalah salah satu resiko pekerjaannya dan ‘kasihan’ karena ibu muda ini tak mengerti bagaimana caranya menggunakan media untuk melejitkan kecerdasan anaknya, mungkin begitu kata batin si mba pramuniaga itu. Tapi benarkah itu?

Tau kah si mba? Walaupun aku ngeloyor pergi menyusul kaisar dan ayahnya yang sudah asyik di arena mandi bola, tapi hati dan pikiranku masih tertinggal untukmu, koreksi, maksudku masih keingetan cd itu. Haruskah aku membelinya? Akankah efektif untuk kaisar? Kemudian melintas lagi percakapan beberapa pekan yang lalu dengan seorang rekan kerja …

“Jeng sis, anakku 18 bulan udah bisa nyebutin namaku, nama ayahnya, kakek nenek om tante sampe semua sepupunya. Trus udah bisa menunjuk sambil nyebutin nama hewan-hewan, ngomongnya udah lancar, logikanya udah jalan, udah bisa dimintain tolong ambil ini itu, udah bisa pake baju celana sendiri, dll … “

Deg, sebuah palu menghantamku, melemparkan sepihan-serpihan pertanyaan yang menggelisahkan, aku ngapain aja ya selama ini? Ko anakku belum bisa itu semua? Aku musti ngajarin anakku apa aja ya? Gimana caranya?

Imbas dari kegelisahan itu, siang itu juga aku langsung belanja flashcard, mainan edukatif dan puzzle carpet. Dan sorenya, aku dengan sangat berambisi menhujani anakku dengan berbagai gambar dari flashcard, memaksa anakku untuk bermain dgn mainan edukatifnya, mencoba mengajarkan anakku menyusun puzzlenya. Dan hasilnya, kecewa berat. Anakku tak mendengarkan ocehanku saat menyebutkan nama-nama benda lewat flashcard, tapi dia sangat tertarik untuk mengeluarkan semua kartu-kartu itu lalu memasukkan satu persatu kartu tersebut kedalam boxnya. Hasilnya adalah frustasi, karena anakku mengabaikan petunjukku untuk memasukkan donat warna warninya sesuai dengan urutan besar kecilnya ke menara, tapi dia sangat tertarik untuk memasukkan semua donat-donat itu dengan urutan suka-suka dia, berulang kali. Hasilnya adalah stress, saat anakku tak mengindahkanku untuk memasangkan puzzle-puzzlenya, tapi dia tertarik untuk menggigiti, memintaku memasangkan, lalu dia mengeluarkannya lagi begitu berulang kali, lalu memelintirnya untuk menguji kelenturan bahannya.

Sampai akhirnya, ambisiku mengecil dan padam dengan sendirinya. Aaaahh tak mudah jadi ibu muda di era teknologi informasi saat ini. Ibu dituntut untuk cerdas dan anak dipaksa untuk belajar. Ingin sekali menarik diri ke jaman aku dilahirkan. Zaman itu tentunya belum mengenal penelitian teranyar tentang cara-cara efektif melejitkan potensi anak, tak pula mengenal teknologi-teknologi sebagai media belajar anak, tapi aku, suamiku atau siapapun yang lahir zaman itu baik-baik saja, bukan golongan terbelakang, bisa membaca, berhitung, mengaji, mengenal benda-benda, makhluk hidup, dll tepat pada waktunya. Bahkan para ilmuwan dan akademisi yang melakukan penelitian atau yang menemukan teknologi belajar anak usia dini itupun mungkin juga lahir dan besar pada era yang sama-sama buta teknologi.

Jadi, bagaimana ini?

Dalam galauku ku berpikir, salah rasanya kalau harus kembali kemasa-masa kegelapan buta tekonologi sementara Kaisar hidup dizaman terang benderang teknologi seperti ini. Tapi tak dapat dibenarkan juga jika harus menuntut dan memaksakan Kaisar untuk belajar menguasai semuanya, sesuai dengan caraku. Tidak, anakku akan belajar dengan keinginannya sendiri dan dengan caranya yang unik. Biarlah dia memilih, mana yang dia suka, dengan cara apa dia akan belajar. Aku percaya suatu hari nanti kaisar akan menunjukkan progres yang besar. Aku, bundanya hanya perlu mendukungnya.

Arena bermain, ahad sore

Ini adalah kali kedua kaisar kami bawa ke arena bermain anak di sebuah mall di kota kami. Mainan pertama yang di minatinya adalah mobil-mobilan kecil berwana pink. Awal mulanya kaisar belajar membuka menutup pintunya, kemudian berusaha memasukkan bokongnya, lalu keluar lagi, kemudian memasukkan satu kakinya, lalu keluar lagi, kemudian memasukkan kedua kakinya, lalu keluar lagi, sampai pada tahap duduk di depan kemudi, menutup pintu lalu dadah-dadah dan kissbay sama ayah bunda, lihat deh wajahnya senang & bangga. Di kolam mandi bola, kaisar hanya diam mengamati sekeliling, tak bergerak dari tempatnya, tak juga mencoba melempar dan menghamburkan bola-bola itu, responnya hanya menjerit kegirangan, memandang antusias saat melihat bocah-bocah lain berlompatan, menyelam & mengacaukan bola-bola dalam kolam. Mungkin kaisar juga ingin seperti itu, tapi sayang kaki-kaki kecilnya masih belum kuat untuk mencoba gerakan-gerakan itu. Selanjutnya dia beralih ke rumah-rumahan di sudut sana, Kaisar keluar masuk, main ciluk ba dan mencoba melompati jendela. Kemudian, dia tertarik main perosotan, tapi tak mau naik tangganya, jadi langsung saja memanjat perosotannya :D. Padahal di kunjungan pertama tempo hari, Kaisar tak mau main perosotan dan hanya melongok rumah-rumahan itu. Tapi rupanya dia mengamati dan belajar, lalu memutuskan ingin mencobanya sendiri hari ini.

Begitulah anakku, ku kira tak hanya Kaisar yang  harus belajar untuk berkembang, bundanya juga harus belajar untuk memahaminya. Seolah tau apa yang ku pikirkan sedari tadi, ayahnya berbisik padaku,

“Bunda, ayah ga ingin nuntut apa-apa dari kaisar, ga pengen kaisar pinter baca, hitung, atau memaksakan dia belajar ini itu diusianya yang masih batita, ayah cuman ingin kaisar jadi anak yang bahagia dan disayangi. Itu lebih penting dari kehebatan kognitif manapun.”

3 Cerita

Standar

Cerita Eyang …

”Duh ndaaa, anakmu ini pinternya minta ampuuun. Masa ya tadi dia bawa-bawa baju ambonya (kakek), trus narik-narik tanganku, diarahkan ke mesin cuci, minta bajunya ambo dimasukin ke mesin cuci. Terus narik-narik tanganku lagi minta ambilin detergen, terus minta gendong, tangannya nunjukin ke tutup mesin cuci yg masih kebuka, ooohh minta ditutup. Terus aku pikir udah, aku turunin. Eh dia minta gendong lagi, tangannya mencet-mencet tombol start, ooohh kaisar mau nyuci baju ambo. Pinteeeerrr banget kan, pengamat tulen nih anak. Belum lagi kalo maen nda, ini disini maenannya banyak, macem-macem, pasti kaisar disuruh maen sendiri deh. Kalo dirumah eyang sih selalu ditemenin, maenan kardus, atau apa aja, eyang musti pinter-pinter nyari aktivitas baru buat Kaisar, kalo ga, anaknya bakalan bosan. Kaya tadi, eyang renggangin karet-karet di kardus, terus eyang petik-petik, Kaisar tertarik trus ketawa ketiwi denger nada-nada dari karet itu. Terkadang juga baca katalog hypermart, banyak gambar-gambarnya, eyang yang tunjukin gambar, ini sepatu Sar, sepatu punya sapa? Kaisarnya jawab, ‘ a…yah’. Ini kunci Sar, kaisarnya motong,’mbil’ maksudnya mobil. Kunci mobilnya punya siapa? Kaisar jawab,’mbo’ maksudnya ambo, terus dia narik tanganku keluar, nunjukin mobilnya ambo. Pinter banget deh Kaisar ini.’’

Cerita Bunda …

Bunda capek nak, Kaisar maen sendiri dulu ya. Pinggang bunda sakit, mau tiduran dulu, Kaisar jangan rewel ya. Ini mainannya dimainin ya, bunda mau ke dapur dulu. Kaisar jangan ikutin bunda mulu napa, kerjaan bunda belum selesai nih. Kaisar diem napa, lagi ada yang seru nih di fesbuk. Kaisaaaaarrr, hape bunda jangan dibantiiiiiinnngggg ….

Kaisar ko ga kaya yang diceritain eyang ya? Katanya Kaisar pinter, tapi ko ga ngasih liat kepinteran Kaisar sama bunda sih?

Cerita Kaisar ….

Bunda, gimana caranya masukin ini? Bunda tolong ambilin mainan di situ. Bunda sini dong deket kaisar. Bunda lagi apa sih di dapur? Bunda ga boleh boboan. Bunda bangun. Bunda nenen. Bunda jangan nonton tv dong. Bunda liatin Kaisar dong. Bunda pinjem hapenya, mau Kaisar buang aja. Bunda, Kaisar kangen sama bunda. Bunda, temenin Kaisar maen dooong ….

Oeeeee … Eyang jangan pulang, Kaisar ikut eyang. Ga enak disini, kaisar maen sendirian, ga ada yang temenin, bunda ga mau temenin Kaisar, bunda ngelarang-ngelarang terus, bunda marah-marah mulu, bunda ga sayang sama Kaisar, eyaanngg …. Kaisar mau sama eyang aja ….

Lecutan

Standar

Ketika pertama kali ditempatkan di ruang mungil ini apa yah yang ku rasakan? Wah pastinya akan nyaman, punya ruangan sendiri tempat nyempil euyy. Belakangan, kenyaman itu jadi bumerang, aku terjerat dalam kata ’nyaman’ dan lupa untuk mewujudkan ’taman’ impian.

Untuk pertama kalinya jadwal kerjaku teramat longgar, apa yang ku rasakan? So pasti menyenangkan, banyak waktu untuk belajar dan berbuat sesuatu. Tapi apa yang terjadi? ’sesuatu’ itu tak jua terbentuk dan terbangun. Hanya bisa terkapar, menunggu waktu berputar tanpa belajar sesuatu apa pun.

Saat diberi jobdesk yang abstrak, apa yang ku pikirkan? Aku akan bebas terbang dan berkembang. Namun nyatanya, seperti terkurung dalam ilusi ’sempit’ tak jua bebas apalagi berkembang. Hanya menjalani rutinitas tanpa darah dan arah.

Apa sih yang ku butuhkan? Sebuah lecutan. Mungkin begini yah, kalo mentalitas kuda masih mengendam dalam jiwa. Tanpa lecutan tak jua bisa bergerak.